Ahad, 15 April 2012

Great mosque of Djenna


Masjid Raya Djenné adalah bangunan dari lumpur terbesar di dunia dan dianggap oleh banyak arsitek sebagai gaya arsitektur Sudano-Sahelian terbaik. Masjid ini terletak di kota Djenné, Mali, di dekat Sungai Bani. Masjid pertama di tempat ini dibangun pada abad ke-13. Selain merupakan pusat komunitas Djenné, kota ini juga merupakan lambang terkenal Afrika. Bersama dengan "Kota Kuna Djenné", tempat ini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1988.

Masjid ini didirikan berdasarkan kearifan lokal penduduk Djenne pada awal abad 20-an. Lumpur dan kayu palem yang melimpah menjadi material dalam bangunan masjid yang disesuaikan dengan iklim panas di Afrika Barat.

Masjid didirikan dari batu bata lumpur yang dikeringkan dengan sinar matahari (ferey) dan semen. Sementara lapisan luar menggunakan plester juga berbahan dasar lumpur sehingga memberi tampilan halus berkelok, seperti patung. Masjid ini sangat terlihat elegan karena dibangun dengan gaya arsitektur lokal.

Dinding masjid memiliki ketebalan antara 40 cm-60 cm, yang berguna untuk menahan berat struktur masjid yang tinggi selain untuk melindungi dari radiasi sinar matahari. Jadi saat siang, dinding masjid hangat secara bertahap dari luar, dan di malam hari perlahan menjadi dingin.

Ruang utama masjid disanggah dengan sembilan puluh pilar kayu yang menopang langit-langit, dapat menampung hingga 3 ribu orang. Sifat dingin kayu membantu interior masjid agar tetap sejuk di waktu siang hingga sore. Masjid agung itu juga memiliki ventilasi udara dengan penutup keramik. Penutup itu dapat dipindahkan pada malam hari untuk ventilasi udara dalam masjid.

Menurut sejarah, dahulu masyarakat Djenne memiliki masjid untuk pertama kalinya pada tahun 1280. Sultan Djenne saat itu Koi Konboro, mengubah istananya menjadi masjid ketika beliau masuk ke dalam agama Islam. Masjid yang ini sangat terkenal hingga ke seluruh dunia.

Tak banyak diketahui nasib masjid yang didirikan Koi Konboro itu, tapi masjid itu dinilai terlalu mewah oleh penguasa Djenne pada awal abad ke-19 saat itu, Sheikh Amadou. Amadou membangun masjid kedua tahun 1830 dan tidak merenovasi masjid pertama hingga jatuh dengan sendirinya.

Masjid Agung Djenne yang saat ini berdiri dibangun tahun 1906 dan selesai satu tahun kemudian pada tahun 1907. Saat itu desain masjid dirancang oleh Ismaila Traoré, ahli bangunan yang juga memimpin proyek pembangunan masjid ini. Mali saat itu di bawah kendali Prancis, yang menawarkan beberapa bantuan finansial dan politik untuk pembangunan masjid.

Letak Masjid Agung Djenne yang dekat dengan Sungai Bani membuatnya rentan terkena banjir saat air sungai itu meluap setiap tahun. Usai musim hujan atau saat musim semi, biasanya lebih dari 4 ribu orang berkumpul untuk memplester kembali masjid dari lumpur ini. Beberapa penduduk menyiapkan campuran lumpur dan sekam untuk bahan memplester.

Untuk mempercepat proses tersebut, mereka menggunakan kayu sebagai penguat dan penopang. Kebiasaan memplester ini menjadi semacam festival bagi penduduk Kota Djenne.

Karena keunikannya, pada tahun 1988, kota tua Djenne dan masjid agungnya diresmikan menjadi situs sejarah dunia oleh UNESCO. Masjid Agung Djenne pun terkenal sebagai simbol Kota Djenne dan Bangsa Mali.

Kini masjid Djenne masih menjadi salah satu bangunan penting di Afrika Barat. Umat Muslim dan turis dari seluruh dunia datang mengagumi struktur bangunan masjid, selain beribadah. Ada yang berdoa, belajar, dan juga berguru. Masyarakat kurang mampu dari sekitar Kota Djenne pun mengirim anak-anak mereka setiap bulan atau setiap tahun, untuk belajar menulis dan membaca.

Di depan Masjid Agung Djenne, terkadang terdapat pasar dadakan yang diadakan warga Kota Djenne. Kote Djenne sendiri kini menjadi pusat perdagangan hasil pertanian.

Abu Simbel Temple




Abu Simbel (yang bahasa Arab أبو سنبل atau أبو سمبل) adalah sebuah situs arkeologi yang terdiri dari dua kuil batu di selatan Mesir tepatnya di ujung Danau Nasser atau sejauh 290 kilometer baratdaya kota Aswan. Saat ini Abu Simbel adalah Situs Warisan Dunia UNESCO yang masuk bagian ke dalam Markah tanah Nubia, yang melingkupi dari Abu Simbel sampai ke Philae.

Kuil ini sebenarnya dipahat saat Firaun Ramses II masih berkuasa pada Abad 13 Sebelum Masehi, sebagai markah tanah terakhir untuknya dan istrinya Nefertari, untuk memperingati kemenangannya pada Pertempuran Kadesh, dan untuk menakuti tetangga Nubia.


Abu Simbel adalah kuil termegah peninggalan Mesir Kuno di masa pemerintahan Firaun Ramses II. Kuil ini dibangun dengan desain dan konstruksi yang istimewa yaitu membentang menembus “perut” bukit, di DAS Sungai Nil. Kuil Abu Simbel ini telah terkubur pasir dari gurun yang tersebar di Mesir. Di abad ke-6, ada catatan yang menunjukkan bahwa kuil tersebut terkubur pasir setinggi lulut patung raksasa Ramses II.

Setelah kejadian itu, kuil tersebut akhirnya benar-benar terkubur dan akhirnya terlupakan hingga pada tahun 1813,peneliti dunia timur berkebangsaan Swiss, JL Burckhardt menemukan puncak kuil tersebut. Namun kali itu ia belum dapat masuk ke dalamnya. Pada tahun 1817 JL Burckhardt kembali ke Abu Simbel dan berhasil masuk ke dalam kuil dan mengambil sebagian benda berharga yang bisa dibawanya.


Nama Abu simbel sendiri diambil dari nama seorang bocah yang menjadi pemandu saat JL Burckhardt pertama kali datang ke sana. Anak tersebut mengaku bahwa ia melihat kuil tersebut dan menggali kuburan pasir itu sendirian sampai akhirnya kuil dapat terlihat.


Pada tahun 1963, UNESCO merelokasi Kuil Abu Simbel sekitar 200 meter ke selatan. Alasannya karena Kuil Abu Simbel terancam tenggelam oleh karena kenaikan permukaan aliran Sungai Nil akibar proyek bendungan Aswan.
Kuil Abu Simbel yang ditata ulang menghadap Danau Nasser ini menjadi proyek pergeseran bangunan paling spektakuler di abad ke-20 dan menjadi daerah tujuan wisata yang terkenal di Mesir dan seluruh dunia.

Yang pertama, dan terbesar dari kuil, didedikasikan untuk dewa matahari Ra-Harakhte, sedangkan yang kedua, yang lebih kecil, dan beberapa meter di sebelah utara, telah didedikasikan oleh Ramses II untuk istrinya yang cantik, Nefertari, dan harus disembah bersama-sama dengan dewa lainnya.

Kedua candi menarik seluruh perhatian dunia ketika mereka terancam oleh genangan oleh air Bendungan Tinggi. Menanggapi banding oleh Republik Arab Mesir, pada tahun 1959, UNESCO memulai sebuah kampanye sumbangan internasional untuk menyelamatkan monumen Nubia, relik dari peradaban manusia tertua. pemindahan sisa barang dari kuil Abu Simbel dimulai pada tahun 1963, dan dengan biaya sekitar 36 juta dolar. Kuil Abu Simbel direlokasi di dataran tinggi untuk menyambut matahari terbit setiap pagi. 

Abu Simbel Greater Temple (Ramses II)

Ini adalah salah satu dari banyak peninggalan didirikan oleh Firaun Ramses II, ini adalah terbesar dan paling indah candi. Tinggi Fasad adalah 33 meter, dan luas 38 meter , dan dijaga oleh patung-patung Ramses II, yang masing-masing dengan tinggi 20 meter.

Tinggi pada fasad, ada baris ukiran, tersenyum pada matahari terbit. Di pintu masuk kuil, ada tulisan indah nama raja: Ser-Ma'at-Ra, dan antara kaki patung kolosal pada fasad, kita bisa melihat patung-patung kecil dari keluarga Ramses II: ibunya "Mut Tuy "-, istrinya" Nefertari "dan gelar putra dan putri.

Ada juga beberapa dedikasi diantaranya pernikahan Ramses II dengan putri Raja orang Het. Di pintu mereka masuk, ada tiang Aula Besar, dengan delapan pilar bantalan didewakan Ramses II dalam bentuk Osiris .

Di Dinding lorong ini prasasti merekam Pertempuran Kadesh yang dilakukan oleh Ramses II terhadap orang Het. Kemudian kita memasuki lorong kecil candi - balai bangsawan, yang berisi empat pilar persegi. Lalu kita sampai yang di tempat paling suci, di mana kita menemukan empat patung: Ra-Harakhte, Ptah, Amun-Ra dan Raja Ramses II. Candi ini unik, karena matahari bersinar secara langsung pada hari yang paling suci : 21 Februari raja ulang tahun, dan Oktober 22 tanggal penobatannya. 

Abu Simbel Temple (Nefertari)

Terletak di utara Candi Raya, ini diukir di batu oleh Ramses II dan didedikasikan untuk Dewi Cinta dan Kecantikan, Hathur, dan juga untuk istri kesayangannya, Nefertari. Candi ini dihiasi oleh enam patung, empat Ramses II dan dua istrinya Nefertari. Pintu masuk menuju ruang berisi enam pilar berbentuk kepala dewi, Hathur.

Dinding timur ada prasasti yang menggambarkan Ramses II memukul musuh sebelum Ra-Harakhte dan Amun-Ra. adegan dinding lain menunjukkan Ramses II dan Nefertari menawarkan korban kepada para dewa.

Di luar ruang ini, ada satu dinding dengan adegan serupa dan terukir.kemudian, kita mencapai tempat yang paling suci, di mana kita menemukan patung dewi Hathur.

LE MEZQUITA CORDOBA, jejak Nadir kejayaan Islam di Spanyol…


Perjalanan ke Spanyol di awal bulan November tahun 2011 melingkupi beberapa perjalanan ke beberapa kota di Spanyol, yaitu Madrid, segitiga emas daerah Andalusia di Spanyol selatan, yaitu Cordoba, Seville dan Granada, serta berakhir di Barcelona. Perjalanan ini merupakan perjalanan ekskursi arstektural dan juga spiritual, yaitu sebuah perjalanan untuk menapak tilasi kejayaan Islam di Spanyol yang berpusat di daerah Andalusia, bagian Spanyol selatan.
Nama Andalusia berasal dari nama bahasa Arab “Al Andalus”, yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan Muslim. Al-Andalus, yang berarti, “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” mengacu pada wilayah yang dikuasai oleh kekaisaran Muslim di Selatan Spanyol, yaitu kota-kota Almeria, Malaga, Cadiz, Huelva, Seville, Cordoba, Jaen dan Granada. Kebudayaan Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad, dari abad ke 7 dan berakhir pada tahun 1492 dengan penaklukan (reconquista) atas Granada oleh raja dan ratu Khatolik.
Arsitektur Andalusia terlihat jelas mendapat pengaruh yang kental dari arsitektur Moor (Moorish Architecture) yang dipadukan dengan kemegahan arsitektur Eropa. Bangunan arsitektur terkenal di Andalusia antara lain adalah Alhambra di Granada, Le Mezquita di Cordoba, dan menara Menara Torre del Oro dan Giralda di Sevilla, dan sisa-sisa penggalian situs arkelogi termasuk Madinat Azzahra dekat Córdoba dan Italica. Sayangnya, tidak banyak peninggalan arsitektur Islam yang tersisa hari ini di Spanyol karena banyak yang dihancurkan sama sekali atau diubah fungsinya dari masjid menjadi gereja. Salah satu dari contoh tersebut adalah Le Mezquita di Cordoba yang dulunya merupakan masjid agung.
KEAJAIBAN DUNIA ISLAM YANG NYARIS HILANG…
Le Mezquita Cordoba dianggap sebagai keajaiban dunia abad pertengahan oleh masyarakat Muslim di Eropa. Dibangun di situs Visigothic, yang mungkin merupakan situs kuil Romawi sebelumnya, pembangunan Masjid Agung Cordoba dimulai pada masa kejayaan Islam antara tahun 784 dan 786 pada masa  khalifah ‘Abdur-Rahman I, penguasa Umayyah pertama, yang disebut “Falcon of Andalus.” Beliau yang memulai pembangunan Masjid Agung Cordoba dan menjadi satu masjid terbesar kedua di dunia Muslim pada zamannya. Al-Hakam, putra Abdur-Rahman, bertanggung jawab untuk memperluas Masjid Agung di 961-966.
Keunikan Arsitektur.
Direncanakan untuk sebuah masjid dengan lagam HypostyleLe Mezquita terdiri dari ruang sembahyang berbentuk persegi panjang dan sebuah innercourtyard, mengikuti arsitektur yang didirikan di masjid Umayyah dan Abbasiyah dari Suriah dan Irak.
Namun, artikulasi dramatis dari bagian dalam ruang sembahyang itu, menjadikan masjid ini berbeda, adalah terletak pada deretan 856 buah kolom pendukung berupa arcade ganda tapal kuda dan lengkungan dengan balok “voussoirs” berwarna merah dan putih dan beronamenkan batu jasper, marmer, onnyx dan granit. Secara struktural kolom-kolom tersebut sangat fungsional karena memberikan ketinggian yang lebih tinggi dalam aula tetapi sekaligus juga menciptakan kesan ruang yang tidak pernah berakhir dengan permainan cahaya dan bayangan yang dramatis sehingga meningkatkan efek visual yang dapat meninggikan kesadaran spiritual.
Meskipun masjid ini diperluas dengan penguasa kemudian (perubahan yang paling signifikan berasal dari masa pemerintahan Abd al-Rahman II antara tahun 833-852, al-Hakam II antara tahun 961-976, dan wazir al-Mansur dari tahun 987), dasar rumus arcade ganda tapal kuda dengan balok voussoirs tetap dipertahankan di setiap perluasan masjid.
Visualisasi yang dihasilkan dari deretan kolom dan arcade yang membentang dari hasil perluasan masjjid menambah suasana magis dan misterius di dalam masjid ini. Deretan kolom tersebut juga diteruskan dengan deretan pohon kurma di Patio de las Naranjas atau Patio Jeruk.
Jejak peninggalan Islam pada Le Mezquita yang sangat terlihat salah satunya adalah Mihrab Masjid dengan ceruk di dinding yang menunjukkan arah Ka’bah yang dihiasi dengan 320 mosaik, campuran dari arsitektur Bizantium dengan pilar corinthean dan ionic. Digambarkan sebagai” permata dari abad kesepuluh, Le Mezquita, Cordoba merupakan situs warisan dunia UNESCO (UNESCO world heritage site).
Di atas ruangan dekat mihrab, yang dulunya merupakan ruang sholat, terdapat kubah dari pengaruh arsitektur Byzantium yang kuat dengan ornament ukiran kaligrafi yang indah. Di area ini yang dulunya merupakan tempat berjamaah utama, mempunyai dekorasi yang paling indah.
Perubahan Masjid menjadi Kathedral.
Setelah menaklukkan Cordoba di 1236, Ferdinand III menjadikan Masjid Agung Cordoba atauLe Mezquita Cordoba sebagai katedral kota. Pada awal abad 16 Uskup dan Kanon kathedral mengusulkan pembangunan sebuah kathedral baru, dan mengusulkan untuk menghancurkan masjid untuk membangunnya. Karena terdapat pertentangan dari dari warga kota agar tidak menghancurkan bangunan tersebut, maka didukung oleh Kaisar Romawi Charles V, mereka memasukkan kathedral Gothic ke dalam jantung Masjid Agung tersebut.
Minaret masjidpun juga akhirnya dirubah menjadi menara lonceng. Hasilnya tentu sangatcontroversial karena adanya kathedral Gothic yang menjulang masuk di dalam bangunan bekas masjid berkosakata Arsitektur Islam Byzantium yang berakar dari bentuk arsitektur klasik.
Dilihat secara kasat mata arsitektur, sangat jelas keberadaan arsitektur Islam terdapat di setiap komposisi arsitektural, detail dan tulisan Arab atau kaligrafi yang ada di setiap pojok bangunan.Selain itu, jejak keberadaan masjid dulunya, juga terlihat dengan adanya water feature yang hadir  di taman luar atau innercourtyard  sebagai sarana pembersihan diri (wudhu) sebelum melakukan ibadah sholat.
Pada akhirnya, perjalanan ke Le Mezquitta merupakan salah satu perjalanan yang membangkitkan emosi spiritual karena ironisnya, kebanyakan sejarah yang diceritakan tidak sesuai dengan keberadaan yang sebenarnya bahwa, kejayaan Islam saat itu memang direnggut oleh kekuasaan Katholik, bukan sebaliknya.
Bahwa, dulunya Le Mezquita Cordoba adalah masjid, yang berakar dari kejayaan kebudayaan Islam abad pertengahan, berdiri megah selama 8 abad, dan pada akhirnya, menjadi saksi sejarah titik Nadir kejayaan Islam pada zaman tersebut….

Uder Mancing cerita dari Kalimantan Tengah - Indonesia

Uder Mancing adalah seorang laki-laki pemalas yang tinggal di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah. Kerjanya hanya tidur dan memancing. Pada suatu hari, ketika hendak pergi memancing ke daerah udik (hulu sungai), tiba-tiba ia diserang dan ditawan oleh kawanan kera. Mengapa Uder Mancing diserang dan ditawan kawanan kera itu? Lalu, bagaimanakah nasib Uder Mancing selanjutnya? Temukan jawabannya dalam cerita Uder Mancing berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, hiduplah seorang laki-laki bernama Uder. Ia tinggal bersama istrinya di sebuah gubuk yang berada di tepi sungai. Uder seorang suami pemalas. Semua pekerjaan dianggapnya berat. Hanya tidur dan memancing yang menjadi kesenangannya. Jika tidak pergi memancing, ia hanya tidur di rumah sampai berjam-jam. Bahkan ia terkadang tidur dari pagi hingga sore. Ia baru bangun pada saat perutnya lapar, dan kembali tidur setelah perutnya kenyang.

Begitu pula halnya jika memancing, si Uder terkadang berhari-hari tidak pulang ke rumahnya. Ia sangat bangga jika pulang ke rumah membawa ikan walau hanya satu ekor atau hanya ikan kecil sekalipun. Oleh karena itu, orang-orang kampung memanggilnya Uder Mancing.

Demikian yang dilakukan Uder Mancing setiap hari. Istrinya sudah jemu menasehatinya. Bahkan mertuanya pun pernah menasehatinya, namun perilakunya tetap tidak mau berubah. Oleh karenanya, apa pun yang dilakukan Uder, mertua dan istrinya tidak mau tahu lagi. Jika pergi ke ladang, istrinya berangkat sendiri dan membiarkan Uder tidur di rumah.

Pada suatu pagi, Uder baru saja bangun tidur karena kelaparan. Setelah masuk ke dapur, ia tidak menemukan makanan sedikit pun. Ia pun segera mencari istrinya. Saat membuka pintu belakang gubuknya, ia melihat istrinya sedang membersihkan ayam yang baru saja disembelihnya. Tiba-tiba ia merampas usus ayam itu dari tangan istrinya.

“Bang, untuk apa usus ayam itu?” tanya istrinya heran.

“Untuk umpan pancing,” jawab Uder seraya memotong kecil-kecil usus itu.

Setelah menyantap ayam masakan istrinya, Uder Mancing segera mengambil kail dan umpannya untuk pergi memancing ke udik (hulu sungai). Dengan penuh semangat, ia mendayung perahunya menuju ke sebuah teluk besar yang di dalamnya terdapat banyak ikan.

“Hari ini aku akan memperoleh ikan yang banyak,” gumam Udik Mancing sambil mendayung perahunya.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan orang sekampungnya yang baru pulang dari ladangnya.

“Hendak ke mana, Der?” tanya orang itu.

“Hendak ke udik untuk memancing,” jawab Uder.

“Umpannya apa, Der?” orang kembali bertanya.

“Usus ayam,” jawab Uder.

Tidak berapa jauh kemudian, Uder berpapasan lagi dengan orang kampung yang baru saja pulang dari memancing. Orang itu pun bertanya kepada Uder dengan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan orang kampung yang tadi. Si Uder pun menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, walaupun dengan perasaan jengkel.

Setelah orang itu berlalu, Uder kembali mendayung perahunya ke arah pinggir sungai agar tidak berpapasan lagi dengan orang lain. Ia sudah jemu ditanya dengan pertanyaan yang sama. Ia pun menyusuri pinggir sungai menuju udik. Namun, saat lewat di bawah sebatang pohon rindang yang menjorok ke sungai, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara kawanan kera dari atas pohon itu.

‘Hendak ke mana, Der?” tanya seekor kera.

Mendengar pertanyaan itu, Uder semakin jengkel dan marah. Dengan suara nyaring ia menjawab;

“Memancing!”

“Umpannya apa, Der?” tanya kera lainnya dengan pelan.

“Ususmu itu!” jawab Uder semakin marah.

Jawaban Uder membuat kawanan kera itu tersinggung dan marah. Tanpa diduga, kawanan kera yang berjumlah puluhan itu melompat ke atas perahunya. Ada yang mengigit tangan dan kakinya, mencakar wajahnya, bahkan ada yang melepas bajunya. Uder pun tergeletak tidak sadarkan diri di atas perahunya. Kemudian kawanan kera itu beramai-ramai mengangkat tubuh Uder naik ke daratan dan mengikatnya di bawah sebuah pohon tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Menjelang sore, Uder tersadar dari pingsannya. Saat membuka matanya, ia melihat puluhan kera sedang duduk mengelilinginya. Hari pun mulai gelap. Kawanan kera itu tetap membiarkan Uder terikat di pohon tanpa baju. Hampir semalaman Uder tidak bisa tidur digigiti nyamuk

Keesokan harinya, kawanan kera itu kembali berkumpul di sekitar Uder.

“Mimpi apa samalam, Der?” tanya seekor kera.

“Bagaimana bisa mimpi, di sini banyak nyamuk,” ucap Uder dengan ketus.

Hingga siang hari, Uder tetap terikat di pohon. Tubuhnya mulai menggigil karena kelaparan dan kehausan. Ia pun merintih dan menangis. Beberapa ekor kera kecil mendekatinya. Tetapi, bukannya memberi makanan atau minuman, melainkan mengejeknya. Uder pun semakin kesal dan berteriak meminta makanan dan minuman. Tidak berapa lama kemudian, kera besar yang menjadi pemimpin datang membawakan makanan dan minuman untuknya. Uder pun kembali segar dan bertenaga.

Malam harinya, kawanan kera itu memindahkan Uder ke halaman rumah mereka. Keesokan harinya, mereka menanyakan lagi mimpi Uder semalam. Namun, Uder tetap tidak bisa bermimpi karena banyak nyamuk. Pada malam berikutnya, mereka memindahkan Uder ke dalam rumah agar tidak digigit nyamuk. Namun Uder tetap saja digigit nyamuk. Akhirnya, kawanan kera itu memutuskan untuk membuatkan Uder kelambu dari dedaunan. Malam harinya, Uder dapat tidur dengan nyenyak sekali, karena sudah tiga hari tiga malam tidak tidur.

Keesokan harinya, kawanan kera itu kembali bertanya kepada Uder tentang mimpinya semalam.

“Tadi malam aku bermimpi melihat sebatang pohon rambutan yang banyak buahnya,” jelas Uder.

“Di mana letak pohon rambutan itu, Der?” tanya pemimpin kera itu.

“Di hulu sungai,” jawab Uder dengan penuh keyakinan.

Kawanan kera bersorak gembira mendengar cerita Uder. Akhirnya, siang itu juga mereka meminta Uder untuk mengantarnya ke tempat yang ada dalam mimpi Uder. Uder bersedia mengantar mereka asalkan tali pengikatnya dilepaskan.

“Baiklah, Uder! Kami akan melepaskan tali pengikiatmu, asalkan kamu berjanji tidak akan melarikan diri,” kata pemimpin kera itu.

“Saya berjanji tidak akan melarikan diri,” ucap Uder.

Berangkatlah mereka menuju hulu sungai. Kawanan kera berjalan di depan, sedangkan Uder mengikutinya dari belakang. Saat lengah dari pengawasan kera itu, Uder mengambil dua buah batu kerikil dan damar lalu memasukkannya ke saku celananya. Tidak berapa lama kemudian, sampailah mereka di hulu sungai. Rupanya pohon rambutan yang ada dalam mimpi Uder benar-benar nyata.

Tanpa menunggu perintah dari pemimpin mereka, para kawanan kera itu berlomba-lomba memanjat pohon rambutan itu. Pemimpin kera yang tergiur dengan buah rambutan yang sudah matang tersebut, tidak mau ketinggalan. Ia pun menyusul kawanan kera lainnya memanjat pohon itu.

Ketika seluruh kawanan kera tersebut sedang asyik memakan buah rambutan, Uder tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera mengumpulkan ranting-ranting kayu kering yang berserakan di sekitarnya dan menumpuknya di bawah pohon rambutan itu. Dengan cepat, ia mengeluarkan kedua batu kerikil dan damar dari saku celananya. Kedua batu kerikil itu ia gesekkan hingga mengeluarkan percikan api. Setelah damar itu menyala, ia menyelipkannya ke dalam tumpukan ranting kayu kering. Sebentar kemudian, api besar pun menyala dan membakar kawanan kera itu. Tidak satu pun kera yang selamat.

Uder Mancing pun bersorak gembira. Ia merasa puas, karena dirinya dapat mengelabui kawanan kera itu. Setelah itu, Uder lansung kembali ke tempat perahunya ditambatkan oleh kawanan kera itu. Sesampainya di tempat itu, ia melihat seekor kera betina yang sedang hamil besar. Kera betina itu pun merengek-rengek memohon kepada Uder Mancing agar tidak membunuhnya. Uder Mancing pun membiarkannya hidup. Konon, kera betina itulah yang menjadi nenek moyang dari kera yang ada di daerah tersebut.

Setelah itu, Uder Mancing langsung pulang ke gubuknya. Alangkah terkejut istrinya saat melihat suaminya pulang. Ia mengira suaminya telah meninggal dunia, karena sudah lima hari ia tidak pulang. Uder Mancing pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Sejak itu, Uder Mancing mulai berubah menjadi orang yang rajin. Setiap hari ia bersama istrinya sibuk menggarap ladangnya yang cukup luas. Ia pergi memancing jika pekerjaannya di ladang telah selesai. Akhirnya, lama kelamaan Uder Mancing dan istrinya menjadi orang kaya di kampungnya.

* * *

Demikian cerita Uder Mancing dari daerah Kalimatan Tengah. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung banyak pesan-pesan moral. Salah satunya adalah keburukan sifat pemalas. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Uder Mancing yang kerjanya hanya tidur dan memancing yang tidak mendatangkan hasil. Dalam kehidupan orang Melayu, orang yang malas, berlalai-lalai, tidak tekun, dan mudah putus asa dianggap sebagai orang yang tidak bertangunggjawab dan tidak tidak tahu akan hak dan kewajibannya. Orang seperti ini lazimnya dipandang rendah, bahkan dilecehkan oleh masyarakatnya (Tenas Effendy, 2006: 149).

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa seseorang baru akan sadar dan mau berubah setelah mendapat ujian berat. Hal ini ditunjukkan oleh sikap Uder Mancing yang baru mau berubah menjadi rajin setelah mendapat ujian dari kawanan kera. (Samsuni/sas/90/05-08).

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Fansuri, H. Aspul, dkk. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kalimantan Tengah,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah, diakses tanggal 25 Juli 2008).
Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit Adicita.

tanmalaka, kuhendel di kaliurang

Tan Malaka (1948)

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Maret 2008)

Kesekian kalinya soal Indonesia Belanda di perundingkan, sekarang di Kaliurang. Disini delegasi Indonesia berhadapan muka dengan Delegasi Belanda, ialah Kadir dan Husein, yang dimandori oleh Dr. Van Vresdenburgh.

Soal yang akan dipapar diperundingan, kita sekalian dari sudut-mata borjuis-kecil buat kapitalis imperialis Belanda.

Dan buat orang di pihak ketiga, lebih dari pada setahun lampau soal itu sebenarnya sudah selesai.

Lupakah kita kepada perkataan “WASIT” Sir Archibald Clark Karr, yang berpisah dengan soal Indonesia-Belanda dengan perkataan: It is not a difficult one but a slow one”! (Tidak sukar, tetapi lambat)!?? Bahwa sesunggunya, maka dengan maklumat Wakil Presiden pada tanggal 1 November 1945, yang berjanji akan mengembalikan HAK-MILIK-ASING (Musuh atau sahabat, ceroboh atau pendamai) dan membayar “HUTANG-HINDIA-BELANDA”, maka soal Indonesia-Belanda dalam pokok besarnya sudah beres.

Perjanjian Linggarjati sudah memastikan pengembalian HAK-MILIK-ASING dan pembayaran HUTANG “HINDIA BELANDA” itu, hitam di atas putih, menurut fasal 14, “Renville Principles” pun tidak lagi akan merundingkan pokok dasar pengembalian dan pembayaran itu. Paling banyaknya cuma buat menentukan garis kecil yang mengenai pelaksanaan pencarian hidup Belanda atas pengakuan Hak-Milik dan Perusahaannya itu. Dengan perkataan lain, dengan kebun, pabrik tambang, pengangkutan, toko, bank-asuransi dan gedung yang dikembalikan kepadanya itu, bagaimana menjamin supaya Belanda terus mendapatkan tanah, air dan tenaga buruh serta kuli dengan tak ada kesukaran. Bagaimana undang-undang negara dapat menjamin supaya orang Belanda jangan mendapat gangguan dari pihak “KAUM EXTREMIS”, kalau dia keluar masuk pabrik, kebun dan tambangnya, kalau dia dengan nyonya dan nonanya pulang pergi dari desa ke kota, masuk bioskop restoran dan kamar dansa?

Jangan hendaknya tidurnya diganggu oleh letusan granat atau oleh Momok Bambu Runcingnya kaum extrimis.

“Rechts-en bedrijfs-zakerheid”, Kepastian Hukum dan Pencarian, itulah yang masih diperundingkan setelah HAK MILIKNYA Belanda dikembalikan dan hutang “Hindia Belanda” dijanjikan oleh Moh. Hatta dan para Delegasi akan dibayar oleh Rakyat Indonesia.

Syahdan dipandang dari sudut mata Borjuis-Kecil Indonesia, maka soal pengembalian HAK MILIK dan pembayaran Hutang itu, adalah soal yang semestinya jadinya perkara kecil saja, itulah menurut filsafat “hutang dibayar dan piutang diterima”.

Tetapi soal “menduduki kursi” dalam pemerintahan Indonesia dimana borjuis kecil di Indonesia akan “kerja sama” dengan pemeras Belanda, yang dengan Bangsa Asing lainnya memiliki 99,9 % sumber perekonomian modern, adalah perkara yang paling penting buat borjuis kecil kita.

Dalam hati kecilnya maka borjuis kecil juga insyaf, bahwa tak semua kursi (dalam BIS-pun) boleh didudukinya, dia mengakui HAK-MILIK-ASING yang menguasai 99,9 % dari sumber perekonomian modern itu. Tetapi “voor dan schijn” pada lahirnya, berhubung dengan Proklamasi 17 Agustus dan pengorbanan Rakyat/pemuda, maka mereka terhadap Rakyat/pemuda mau memperhatikan, bahwa bangsa Indonesialah yang memegang kunci-pemerintahan BIS itu.

Biarlah 99,9 % sumber perekonomian modern itu dimiliki dan dikuasai oleh orang asing, asal saja mereka yang duduk dalam pemerintahan itu adalah semua orang yang berkulit coklat. Kalau belum semua kursi itu boleh diduduki oleh warna coklat, baiklah sebagian besar saja dahulu.

Soal “Berapa orang” berkulit coklat kelak diizinkan oleh Kapitalist, Imperialist Belanda menduduki NIS, itulah yang dipapar diperundingan oleh kedua Delegasi selama lebih kurang dua tahun berdiplomasi ini. Buat borjuis kecil Indonesia, soal ini, walaupun buat “schijn” saja, adalah soal yang paling penting.

Tetapi buat Belanda soal demikian adalah soal remeh, bukan soal HAK-MILIK dan HUTANG-PIUTANG. Tetapi penting pula buat Belanda soal KEAMANAN dalam pencahariannya. Berhubung dengan itu, maka soal PERBANDINGAN BANYAK, antara yang berkulit coklat dengan yang berkulit-putih, yang patut menduduki kursi dalam pemerintahan NIS adalah soal yang tak boleh diabaikannya saja. Banyak sentimen borjuis kecil yang harus dilintasi atau ditutupi lebih dahulu.

Memangnya kalau Rakyat/pemuda Indonesia mau menerima saja pemerintahan Indonesia di “QUISLING-KAN”, di "Henry-puji"kan atau di “Wang-Chi-Wei”kan, Belanda tak akan menghadapi soal yang ruwet. Tetapi rakyat/pemuda Indonesia sudah 3 ½ tahun mengalami sendiri pembonekaan Jepang.

Sesungguhnya dengan hitung-menghitung-jari menurut filsafat kruidenier saja, Belanda dengan “nuchter realiteitnya” sudah lebih dahulu dapat menentukan “PERBANDINGAN BANYAK” yang akan menduduki kursi-pemerintahan itu. Karena 99,9 % sumber pencaharian modern berada di tangan asing, maka menurut filsafat dengan ahli warung, 99,9 % pulalah bangsa asing harus mengendali politik pemerintahan Indonesia. Tetapi memang sentiment “kebangsaan” dan "question of face" (soal muka) adalah penting buat Asia umumnya dan bangsa Indonesia khususnya. Perundingan Indonesia-Belanda kesekian kali ini ialah mencari satu “face saving method”, satu cara buat menutup “muka malu” para pemimpin Indonesia.

Janganlah hendaknya para pemimpin Indonesia malu kelak menghadapi kaum oposisi yang akan menteriakkan “kalah bertekuk lutut” kalau terlampau banyak kursi diserahkan kepada Belanda. Pun Belanda sendiri tahu, walaupun semangatnya adalah semangat kruindenier, bahwa satu “stable doverment”, een “ordelyke regering” yang sangat di butuhkan itu tak akan diperoleh, kalau di mata rakyat Indonesia, para pemimpinnya menduduki “terlampau sedikit kursi” atau cuma memegang kekuasaan yang tiada penting saja. “Face-saving methode” ini (sebenarnya perkara remeh saja) belum juga didapatkan sampai dua tahun lebih ini. Dulu dengan Linggarjati soal “menutup muka” itu hampir tercapai. Dalam lima perkara yang dikemukakan dalam perundingan maka borjuis kecil Indonesia sehabisnya perang lidah dan perang pena yang hebat dahsyat, sudah menerima 4 perkara. Kandas pada “gendarmeris-bersama”.

Seandainya kruidenier dari Roterdam dan makelar dari Amsterdam bours, sedikit berpandangan jauh dan berhati lapang dan undurkan saja buat sementara waktu “gendarmerie-bersama” itu dan buat menutup malu “para pemimpin dan diplomat” Indonesia, biarkan saja Republik menjaga keamanan, maka linggarjati sudah dapat dilaksanakan. Belanda akan dapat pinjaman uang dari Wall Street New York; pabrik, toko dan pelabuhan dapat dibuka dengan lebih leluasa; Belanda akan dapat kesempatan memperbaiki perekonomian sendiri.

Dengan begitu, maka pemeras-penindas Belanda mendapat kesempatan yang lebih luas buat meninabobokan semangat BAMBU RUNCING dengan kemerdekaan dan kemakmuran palsu.

Kalau dalam hal itu BAMBU RUNCING TOH MELAYANG maka Belanda bisa berteriak-teriak. Dalam hal itu Wall Street tentu akan datang membantu dan menggerakkan UNO dan “public-opinion” di dunia buat membusukkan ketentraman di dalam Republik. Ikut serta dengan Belanda menteriakkan keempat penjuru alam, bahwa Republik tak bisa memegang “stable government”.

Dalam keadaan demikian, tentulah borjuis kecil Indonesia akan “kehilangan muka”, karena pemerintahannya “tidak stable”. Memang tidak ada yang lebih ditakuti oleh borjuis kecil dari pada “kritik” internasionaaaaaaaaaaaaaaaaaal ! ! !

Tetapi Belanda sebagai ahli warung pegang teguh kecurigaannya, dengan kecurigaan tukang warung, dia terus mendesak mengadakan “gendarmerie bersama”, walaupun dengan pengakuan “MAHKOTA BELANDA” itu dalam hakekatnya urusan ketentraman dalam Republik itu sudah di bawah pengawasan (supervision) pemerintah Agung di negeri BELANDA.

Rupanya Belanda sudah merasa dekat yang disetujuinya ialah :
Semua Hak-Milik akan kembali dan hutang-piutang “Hindia Belanda akan dibayar oleh NIS.”
Di “Batavia” akan berada pusat pemerintahan-boneka (NIS) yang pegang rol penting dalam sandiwaranya enam atau tujuh Negara Boneka kecil-kecil yang satu sama lainnya boleh diadu dombakan dan di Nederland akan duduklah Raja Belanda dengan para menterinya (UNI) yang mengendalikan para Boneka di Indonesia ini.
Sekurangnya Urusan Luar Negeri, kemiliteran dan keuangan supaya diserahkan kepada UNI-Nederland-Indonesia, ialah kepada kapitalis-imperialis-Belanda, dengan segelintir atau dua gelintir inlanders-Alat.

Semua tuntutan ini sebenarnya sudah terdapat pada Linggarjati. Dengan kosongnya “kantong” di Jawa dan Sumatra dan dengan “perjanjian” plebisit, yang boleh diinjak-injak, diputar-balikkan atau dibatalkan sama sekali; dengan pertolongan KTN ialah para Tengkulaknya Marshall-Plan, maka rupanya Belanda sudah percaya bahwa di Kaliurang Kapal Renville akan membawa Belanda dan Indonesia ke bawah haribaannya kapitalis Amerika Cs yang sedang menantang Sosialis-Rusia dan negara sahabatnya.

Tetapi para wakil dari “Kroon” dihina, diejek dan diludahi oleh Rakyat di stasiun Yogya ketika mereka menuju Kaliurang.

Sekali lagi menunjukkan instink (naluri) Rakyat yang tepat dalam hal diplomasi-pun. Rakyat menunjukkan pelayanan semacam itu bukan kepada bangsa Asing, walaupun dia insyaf sungguh akan maksudnya semua bangsa asing itu. Rakyat Murba menunjukkan penghinaan itu kepada bangsanya sendiri, ialah mereka yang meninggalkan barisan-Rakyat-berjuang membela kemerdekaannya dan memihak kepada barisan yang memperkosa kemerdekaan itu. Dalam perkataan tegas, Rakyat melayani bangsanya sendiri yang dengan terang-terangan sudah BERKHIANAT. Belum tentu bangsa lain yang lebih sadar dan kurang sabar dari pada “het zachtstevolk der aarde” ini melayani pengkhianatannya seperti Rakyat Indonesia Yogya. Dan belum tentu pula bangsa Belanda sendiri, teristimewa pula anggota KTN sendiri memandang Kolonel Abdul Kadir Widjaya Atmadja dan Prof. Hussein Djajadiningrat lebih tinggi dari pada pandangan Rakyat Indonesia sendiri terhadap mereka.

Tetapi di samping itu memangnya Belanda tiada pernah banyak mengacuhkan penghinaan batin itu. Tak perlulah kita kupas sejarahnya pedagang Belanda di Jepang dan Tiongkok kurang lebih 300 tahun lampau. Masih segar pula peringatan kita tentang sikap “Tuan & Nyonya Besar” Belanda selama 3 ½ tahun di bawah bendera Jepang. Lebih mementingkan kehormatan diri dari pada keuntungan dagang adalah bertentangan sangat dengan “kruindeniers-geest”, semangat tukang warung.

Tetapi pelayanan Abdul Kadir dan Hussein itu memangnya pula boleh dipakai untuk mendapatkan keuntungan diplomasi. Inilah maka Belanda berteriak-teriak setinggi langit dan memprotes sekeras-kerasnya terhadap pelayanan yang di masa Jepang akan di terimanya dengan senyuman seorang “beer, die kiespijn hooft”.

Hilanglah sebenarnya amarah dan ketakutan Belanda terhadap Murba di stasiun Tugu itu, karena pelayanan para bonekanya, apabila autonya Belanda mendengung-dengung melalui desa dan sawah dikiri-kanan, ketika menuju Kaliurang. Teristimewa apabila dia sampai di salah satu gedung besar yang bersih dalam suasana yang sejuk segar di Kaliurang seolah-olah di negerinya sendiri untuk menghentikan lelahnya. Dari Kaliurang di pinggang Gunung Merapi yang menyanjung ke angkasa dengan segala kemegahannya ketika memandang ke bawah ke lembah yang luas, subur, digarisi oleh kali yang mengairi sawah dan ladang; lembah yang ditaburi oleh desa, penuh sesak dengan tenaga murah, patut taat …..en , c, zoe treus aan hun meesters en hun werk ! ………….hasil dari kebudayaan feodal yang “cemerlang”, maka timbullah kembali hasratnya: Akh, sekali lagi kami bangsa Belanda akan menguasai tanah, tenaga dan kekayaan Alam dari swarga Loka ini.

Bangkitlah dia kembali dan berjalan menuju ke medan perundingan dengan kartu baru dikantongnya. Memakai peristiwa Stasiun Tugu sebagai zet buat lebih keras lagi mendesakkan “gendarmerie bersama” untuk bersama-sama menjaga ketentraman di dalam daerah Republik. Kalau diterima oleh Delegasi Indonesia maka jatuhlah semua kekuasaan ekonomi, militer, keuangan, politik dan diplomasi ke tangan Belanda.

Kalau ditolak, maka dapatlah Belanda suatu sebab lagi, buat mengadakan “aksi polisionil” baru dengan alasan yang mungkin akan diterima oleh KTN dengan maksud merobohkan lima atau enam daerah-minus yang masih berada di bawah Republik.

Dengan persitiwa Stasiun Tugu sebagai Kartu Tinggi dengan Kadir-Hussein, sebagai umpan; dengan KTN sebagai MOMOK internasional, maka Belanda akan memusatkan pembicaraannya kepada gendarmerie-bersama disamping pelucutan senjata sebagian besar dari Tentara Republik; penghapusan uang ORI dan Pembatalan pengakuan Negara Arab atas Republik dan akhirnya menyodorkan pembentukan NIS dan UNI seperti yang sudah lama disediakan oleh kepitalis-imperialis Belanda, dimana 99,9 % kekuasaan yang sebenarnya jatuh ke tangan Kapitalis-Imperialis Asing.

Tawar menawar tentang banyaknya kursi dan besarnya kekuasaan yang akan terus dipegang oleh Belanda dan tawar menawar tentang banyak dan sifatnya Kursi yang akan diserahkan kepada borjuis kecil Indonesia di dalam NIS dan UNI itulah sekarang dilakukan di Kaliurang.

Tetapi yang menjadi sasaran dan taruhan dalam hal tawar-menawar ini, yang menjadi SAPI-PERAHAN, kelak, kalau KUHANDEL itu berhasil ialah MURBA, buruh-tani dan Rakyat-Jembel juga.

Sampailah pula perjuangan kemerdekaan Indonesia ini kepada tingkat, dimana MURBA dengan FILSAFAT, ORGANISASI, TAKTIK-STRATEGI, yang dilakukan oleh Borjuis Kecil Indonesia dengan Kapitalis-Imperialis Asing, di atas punggungnya MURBA Indonesia ini, yakni kalau MURBA Indonesia tiada ingin kembali menjadi SAPI-PERAHAN Kapitalis-imperialis itu. Sebaliknya pula MURBA harus membatalkan semua akibatnya kegagalan atau pembatalan perundingan Kaliurang itu dengan segala PERSIAPAN-MURBA yang dijalankan dengan teratur, ketenangan, kebijaksanaan, serta dengan PERSATUAN ORGANISASI, PERSATUAN MAKSUD dan PERSATUAN TEKAD MURBA!

16/04/1948.

Arsip Tan Malaka | Sejarah Marxisme di Indonesia | Séksi Bahasa Indonesia M.I.A.

SEJARAH HIDUP NABI MUHAMMAD PERIODE MAKKAH


            1.      Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal atau 20 April 571M. Sebelum beliau dilahirkan ayahnya telah wafat oleh karena itu kakeknyalah yang mengasuh beliau kemudian di susui oleh Halimatus Sa'diyah. Setelah kakeknya wafat beliau diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib.salah satu dari usaha Muhammad yang terpenting sebelum di utus menjadi rosul ialah berniaga ke syam membawa barang-barang Khadijah. Perniagaan ini menghasilkan laba yang banyak dan menyebabkan adanya pertalian antara Muhammad dengan Khadijah dan mereka kemudian mereka menikah. Waktu itu beliau berumur 25 tahun dan khadijah sudah janda yang berumur 40 tahun.
2. Proses Turunnya Wahyu Yang Pertama
Menjelang usianya yang ke 40, dia sudah terlalu terbiasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke gua hira, bebarapa kilometer di utara kota mekah. Disana Muhammad mula-mula ber jam-jam kemudian berhari-hari bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 Masehi, malaikat jibril muncul menyampaikan wahyu Allah yang pertama :
Artinya :
Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu itu maha melihat. Dia telah mengajar dengan kalam. Dia telah mengajar manusia apa yang mereka tidak ketahui ( QS 96 : 1-5 )
Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Allah sebagai Rasul, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada agama. Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama sementara Nabi Muhammad SAW menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira'.
3. Nabi Muhammad SAW Dalam Berdakwah
Dalam proses penantian Jibril, turun wahyu yang membawa perintah kepada Rasulullah. Wahyu itu itu berbunyi sebagai berikut : Hai orang yang brselimut bangun, dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa dan janganlah engkau memberi ( dengan maksud ) memperoleh ( balasan ) yang lebih banyak dan untuk ( untuk memenuhi perintah ) Tuhanmu bersabarlah. ( Al- Muddatsir 1-7 )
Dengan turunnya perintah itu mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secar diam-diam di lingkungannya sendiri, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau yang paling karib. Mereka di seru kepada pokok-pokok agama islam yang disebut dalam ayat-ayat diatas yaitu, bertauhid kepada allah dan meninggalkan ilah dan berhala-berhala yang mereka sembah.
Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib yang beru berumur 10 tahun. Kemudian Abu Bakar sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup. Banyakorang-orang yang menerima seruan Nabi melalui perantara Abu Bakar. Mereka dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun . Mereka ialah Usman bin Affan, Zubair ibnu Awwan, Sa'ad ibnu Abu Waqqas, Abdurrahman ibnu Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, dan Arqam ibnu Abu Arqam. Rumah Arqam pada saat itu dijadikan tempat pertemuan untuk menyampaikan dakwah islam.
Tidak berapa lama turunlah ayat kepada Nabi Muhammad SAW “ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musrik. Sesungguhnya kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokan kamu.
Sesudah ayat ini tu, mulailah Rasulullah SAW menyeru segenap lapisan manusia kepada agama Islam menyeru segenap lapisan manusia secara terang-terangan baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya, begitupun anggota kerabat mereka sendiri atauorang-orang yang jauh. Mula-mulanya beliau menyeru penduduk mekkah lalu kemudiah penduduk negeri yang lain. Disamping itu beliau juga orang-orang yang berdatangan ke mekkah untuk melakukan ibadah haji. Dengan usahanya yang gigih. Hasil yang diharapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut nabi yang tadinya hanya 12 anorang makin hari makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja dan orang-orang yang tak punya.
- Quraisy Mulai Menentang
Setelah dakwah terang-terangan itu pemimpin quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah rasul. Semakin bertambanya jumlah pengikut Nabi, semakin keras tantangan yang dilancarkan kaum Quraisy.
Faktor-faktor yang mendorong Quraisy menentang seruan islam
Dengan mempelajari dan mengerti bagaimana kehidupan bangsa arab dapatlah kita menyimpulkan sebab-sebab yang mendorong kaum quraisy menentang agama islam yaitu sebagai beriku :
Persaingan merebut kekuasaan
Kaum Quraisy tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan, atau antara kenabian dan kerajaan. Mereka mengira tunduk kepada agama Muhammad berarti tunduk kepada kekuasaan Abdul Muthalib. Sedangkan suku-suku bangsa arab selalu bersaingan untuk merebutkan kekuasaan dan pengaruh. Sebab itu bukanlah hal yang mudah bagi kaum quraisy untuk menyerehkan kepemimpinan kepada Muhammad karena menurut mereka berarti suku-suku bangsa arab akan kehilangan kekuasaan dalam masyarakat.
Penyamaan antara hak antara kasta bangsawan dan kasta hamba sahaya
Bangasa arab hidup dengan system kasta, tiap-tiap manusia digolongkan dalam kelompok kasta yang tak boleh dilampauinya. Tapi seruan nabi Muhammad membrikan hak yang sama kepada manusia, yang merupakan suatu dasar yang penting dalam agama islam, agama islam memandang sama antara hamba sahaya dengan tuannya.
Takut dibangkitkan dari alam kubur
Agama islam mengajarkan bahwa pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan dari dalam kuburnya dan semua amal pernebuatan manusia akan di hisab , orang-orang yang berbuat baik maka Allah akan membalasnya dengan surga akan tetapi orang yang berbuat jahat akan dibalas dengan neraka. Kaum Quraisy tidak dapat menerima agam islam yang mengajarkan manusia akan dibangkitkan kembali sesudah mati.
Taklid kepada nenek moyang
Para kaum Quraisy taklid secara membabi buta terhadap nenek moyangnya dan mengikuti langkah-langkah mereka dalam prersoalan peribadatan dan tingkah laku adalah suatu yang telah berurat dan berakar pada bangsa arab karena itu sangat beratlah terasa bagi mereka meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama baru yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Mereka berkata : “Apabila dikatakan kepada mereka” Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti rasul. “Mereka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakanya. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa dan tidak pula mendapat petunjuk?
Memperniagakan patung
Salah satu dari perusahaan orang arab dahulu adalah memahat patung yang menggambarkan Latta, Uzza , Manna , dan Hubal patung-patung itu mereka jual kepada Jamaah Haji, mereka membelinya supaya mendapat berkat atau untuk kenang-kenangan. Tetapi agama Islam melarang menyembah memahat dan menjual patung, karena itu saudagar-saudagar patung memandang agama Islam sebagai penghalang rezeki mereka, oleh karena itu, mereka menentang agama islam.
Fase-fase tantangan Quraisy terhadap agama Islam
Pada permulaan islam kaum Quraisy belumlah mencurahkan perhatiannya terhadap umat islam mereka mengira bahwa seruan nabi Muhammad itu hanya satu gerakan yang tidak akan bertahan lama untuk akan lemah dan akan punah dengan sendirinya. Akan tetapi, alangkah terkejutnya mereka melihat dengan cepat memasuki kehidupan rumah tangga mereka dan hamba sahaya yang dulu mereka anggap derajatnya terlebih sebagai harta benda telah menerima pula seruan itu dan telah menerima pula seruan itu dengan baik. Pertama sekali mereka halangi para hamba sahaya dan orang-orang yang lemah seperti Yasir dan putranya Ammar serta istrinya Summayyah, begitu juga Bilal, Habab Ibnu Haris dan lainnya mendapat siksaan yang berat diluar prikemanusiaan. Akan tetapi Nabi SAW tidak mendapatkan siksaan karena Bani Hasyim memiliki kedudukan yang tinggi pada pandangan mereka dan Rasul sendiri mendapat perlindungan dari pamannya Abu Thalib. Akan tetapi, seruan Nabi bertambah tersiar dan bangsawan Quraisy mulai banyak yang masuk.

Program 30 Hari Melatih Pikiran Bawah Sadar berdasarkan The Power of Your Subconscious Mind

Setiap hari ada materi singkat + afirmasi/visualisasi/latihan praktis. --- 📘 Program 30 Hari – The Power of Your Subconscious Mind 🗓 Mingg...