Menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan adab yang baik. Seorang murid bukan hanya dituntut untuk memahami ilmu yang diajarkan oleh gurunya, tetapi juga harus menunjukkan sikap hormat dan etika yang tinggi dalam proses pembelajaran. Ilmu bukan sekadar tentang menghafal dan memahami, tetapi juga tentang bagaimana seorang murid memperlakukan gurunya dengan penuh penghormatan dan ketundukan.
Sebagai seorang muslim, adab terhadap guru adalah sesuatu yang sangat ditekankan dalam Islam. Seorang murid harus selalu mendahului gurunya dalam memberi hormat dan salam. Ini adalah tanda penghormatan yang menunjukkan ketulusan dan rasa hormat terhadap orang yang telah membimbingnya dalam ilmu. Dalam pertemuan atau majelis ilmu, murid hendaknya bersikap sopan dan tidak banyak bicara di hadapan gurunya. Sikap ini mencerminkan kesungguhan dalam belajar serta rasa rendah hati dalam menimba ilmu.
Seorang murid juga tidak boleh memotong pembicaraan atau menanggapi ucapan gurunya dengan pernyataan yang menentangnya. Jika ada perbedaan pendapat, sebaiknya murid menyampaikan dengan cara yang sopan dan penuh adab. Tidak boleh ada sikap yang menunjukkan bahwa ia merasa lebih tahu daripada gurunya. Murid yang baik juga tidak boleh bertanya sebelum diberikan izin, sebab hal itu menunjukkan kesabaran dalam menerima ilmu dan menghormati waktu yang diberikan oleh sang guru.
Selain itu, seorang murid harus menjaga sikapnya di dalam majelis ilmu. Tidak boleh menoleh ke sana-sini, berbicara dengan teman duduknya, atau menunjukkan perilaku yang tidak sopan. Ia harus duduk dengan tenang, menundukkan pandangan, dan menunjukkan sikap yang penuh ketertiban, sebagaimana seseorang ketika sedang melaksanakan salat. Dengan sikap ini, seorang murid menunjukkan bahwa ia benar-benar menghargai ilmu yang sedang diajarkan dan tidak menganggap remeh keberadaan gurunya.
Kesabaran dalam belajar juga harus diiringi dengan kepekaan terhadap kondisi guru. Seorang murid tidak boleh banyak bertanya ketika melihat gurunya sedang bosan atau kelelahan. Ia harus tahu kapan waktu yang tepat untuk bertanya dan berdiskusi, sehingga tidak membuat gurunya merasa terganggu atau terbebani. Ketika sang guru berdiri, maka murid juga harus ikut berdiri sebagai bentuk penghormatan, tetapi tanpa mengikutinya dengan berbagai pertanyaan atau pembicaraan yang tidak perlu.
Adab seorang murid tidak hanya berlaku di dalam kelas atau majelis ilmu, tetapi juga di luar itu. Seorang murid tidak boleh bertanya kepada gurunya ketika sedang dalam perjalanan menuju rumah atau dalam kondisi yang tidak tepat. Ia harus memahami bahwa gurunya juga memiliki kehidupan pribadi dan waktu untuk beristirahat. Sikap ini menunjukkan penghormatan yang lebih mendalam, bahwa seorang murid tidak hanya menghargai ilmunya, tetapi juga kehidupan gurunya.
Lebih dari itu, seorang murid harus menjaga prasangka baik terhadap gurunya. Jika ada perbuatan gurunya yang secara lahiriah tampak tidak bisa diterima, hendaknya ia tidak tergesa-gesa dalam menilainya. Seorang guru memiliki wawasan dan kebijaksanaan yang lebih luas, serta memahami banyak hal yang mungkin belum dapat dijangkau oleh murid. Oleh karena itu, berburuk sangka terhadap guru hanya akan menghambat proses belajar dan mengurangi keberkahan dalam menuntut ilmu.
Menghormati guru adalah kunci untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan penuh berkah. Ilmu yang didapat dengan adab yang buruk tidak akan membawa manfaat yang besar dalam kehidupan. Sebaliknya, ilmu yang dipelajari dengan sikap yang penuh hormat dan ketundukan akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang murid sejati tidak hanya belajar dengan akalnya, tetapi juga dengan hatinya. Ia memahami bahwa ilmu bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang bagaimana ia menghargai sumber ilmu tersebut—gurunya. Dengan menjaga adab yang baik, seorang murid akan mendapatkan keberkahan dalam ilmunya dan menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan