Memaparkan catatan dengan label MASJID. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label MASJID. Papar semua catatan

Ahad, 15 April 2012

Great mosque of Djenna


Masjid Raya Djenné adalah bangunan dari lumpur terbesar di dunia dan dianggap oleh banyak arsitek sebagai gaya arsitektur Sudano-Sahelian terbaik. Masjid ini terletak di kota Djenné, Mali, di dekat Sungai Bani. Masjid pertama di tempat ini dibangun pada abad ke-13. Selain merupakan pusat komunitas Djenné, kota ini juga merupakan lambang terkenal Afrika. Bersama dengan "Kota Kuna Djenné", tempat ini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1988.

Masjid ini didirikan berdasarkan kearifan lokal penduduk Djenne pada awal abad 20-an. Lumpur dan kayu palem yang melimpah menjadi material dalam bangunan masjid yang disesuaikan dengan iklim panas di Afrika Barat.

Masjid didirikan dari batu bata lumpur yang dikeringkan dengan sinar matahari (ferey) dan semen. Sementara lapisan luar menggunakan plester juga berbahan dasar lumpur sehingga memberi tampilan halus berkelok, seperti patung. Masjid ini sangat terlihat elegan karena dibangun dengan gaya arsitektur lokal.

Dinding masjid memiliki ketebalan antara 40 cm-60 cm, yang berguna untuk menahan berat struktur masjid yang tinggi selain untuk melindungi dari radiasi sinar matahari. Jadi saat siang, dinding masjid hangat secara bertahap dari luar, dan di malam hari perlahan menjadi dingin.

Ruang utama masjid disanggah dengan sembilan puluh pilar kayu yang menopang langit-langit, dapat menampung hingga 3 ribu orang. Sifat dingin kayu membantu interior masjid agar tetap sejuk di waktu siang hingga sore. Masjid agung itu juga memiliki ventilasi udara dengan penutup keramik. Penutup itu dapat dipindahkan pada malam hari untuk ventilasi udara dalam masjid.

Menurut sejarah, dahulu masyarakat Djenne memiliki masjid untuk pertama kalinya pada tahun 1280. Sultan Djenne saat itu Koi Konboro, mengubah istananya menjadi masjid ketika beliau masuk ke dalam agama Islam. Masjid yang ini sangat terkenal hingga ke seluruh dunia.

Tak banyak diketahui nasib masjid yang didirikan Koi Konboro itu, tapi masjid itu dinilai terlalu mewah oleh penguasa Djenne pada awal abad ke-19 saat itu, Sheikh Amadou. Amadou membangun masjid kedua tahun 1830 dan tidak merenovasi masjid pertama hingga jatuh dengan sendirinya.

Masjid Agung Djenne yang saat ini berdiri dibangun tahun 1906 dan selesai satu tahun kemudian pada tahun 1907. Saat itu desain masjid dirancang oleh Ismaila Traoré, ahli bangunan yang juga memimpin proyek pembangunan masjid ini. Mali saat itu di bawah kendali Prancis, yang menawarkan beberapa bantuan finansial dan politik untuk pembangunan masjid.

Letak Masjid Agung Djenne yang dekat dengan Sungai Bani membuatnya rentan terkena banjir saat air sungai itu meluap setiap tahun. Usai musim hujan atau saat musim semi, biasanya lebih dari 4 ribu orang berkumpul untuk memplester kembali masjid dari lumpur ini. Beberapa penduduk menyiapkan campuran lumpur dan sekam untuk bahan memplester.

Untuk mempercepat proses tersebut, mereka menggunakan kayu sebagai penguat dan penopang. Kebiasaan memplester ini menjadi semacam festival bagi penduduk Kota Djenne.

Karena keunikannya, pada tahun 1988, kota tua Djenne dan masjid agungnya diresmikan menjadi situs sejarah dunia oleh UNESCO. Masjid Agung Djenne pun terkenal sebagai simbol Kota Djenne dan Bangsa Mali.

Kini masjid Djenne masih menjadi salah satu bangunan penting di Afrika Barat. Umat Muslim dan turis dari seluruh dunia datang mengagumi struktur bangunan masjid, selain beribadah. Ada yang berdoa, belajar, dan juga berguru. Masyarakat kurang mampu dari sekitar Kota Djenne pun mengirim anak-anak mereka setiap bulan atau setiap tahun, untuk belajar menulis dan membaca.

Di depan Masjid Agung Djenne, terkadang terdapat pasar dadakan yang diadakan warga Kota Djenne. Kote Djenne sendiri kini menjadi pusat perdagangan hasil pertanian.

LE MEZQUITA CORDOBA, jejak Nadir kejayaan Islam di Spanyol…


Perjalanan ke Spanyol di awal bulan November tahun 2011 melingkupi beberapa perjalanan ke beberapa kota di Spanyol, yaitu Madrid, segitiga emas daerah Andalusia di Spanyol selatan, yaitu Cordoba, Seville dan Granada, serta berakhir di Barcelona. Perjalanan ini merupakan perjalanan ekskursi arstektural dan juga spiritual, yaitu sebuah perjalanan untuk menapak tilasi kejayaan Islam di Spanyol yang berpusat di daerah Andalusia, bagian Spanyol selatan.
Nama Andalusia berasal dari nama bahasa Arab “Al Andalus”, yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan Muslim. Al-Andalus, yang berarti, “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” mengacu pada wilayah yang dikuasai oleh kekaisaran Muslim di Selatan Spanyol, yaitu kota-kota Almeria, Malaga, Cadiz, Huelva, Seville, Cordoba, Jaen dan Granada. Kebudayaan Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad, dari abad ke 7 dan berakhir pada tahun 1492 dengan penaklukan (reconquista) atas Granada oleh raja dan ratu Khatolik.
Arsitektur Andalusia terlihat jelas mendapat pengaruh yang kental dari arsitektur Moor (Moorish Architecture) yang dipadukan dengan kemegahan arsitektur Eropa. Bangunan arsitektur terkenal di Andalusia antara lain adalah Alhambra di Granada, Le Mezquita di Cordoba, dan menara Menara Torre del Oro dan Giralda di Sevilla, dan sisa-sisa penggalian situs arkelogi termasuk Madinat Azzahra dekat Córdoba dan Italica. Sayangnya, tidak banyak peninggalan arsitektur Islam yang tersisa hari ini di Spanyol karena banyak yang dihancurkan sama sekali atau diubah fungsinya dari masjid menjadi gereja. Salah satu dari contoh tersebut adalah Le Mezquita di Cordoba yang dulunya merupakan masjid agung.
KEAJAIBAN DUNIA ISLAM YANG NYARIS HILANG…
Le Mezquita Cordoba dianggap sebagai keajaiban dunia abad pertengahan oleh masyarakat Muslim di Eropa. Dibangun di situs Visigothic, yang mungkin merupakan situs kuil Romawi sebelumnya, pembangunan Masjid Agung Cordoba dimulai pada masa kejayaan Islam antara tahun 784 dan 786 pada masa  khalifah ‘Abdur-Rahman I, penguasa Umayyah pertama, yang disebut “Falcon of Andalus.” Beliau yang memulai pembangunan Masjid Agung Cordoba dan menjadi satu masjid terbesar kedua di dunia Muslim pada zamannya. Al-Hakam, putra Abdur-Rahman, bertanggung jawab untuk memperluas Masjid Agung di 961-966.
Keunikan Arsitektur.
Direncanakan untuk sebuah masjid dengan lagam HypostyleLe Mezquita terdiri dari ruang sembahyang berbentuk persegi panjang dan sebuah innercourtyard, mengikuti arsitektur yang didirikan di masjid Umayyah dan Abbasiyah dari Suriah dan Irak.
Namun, artikulasi dramatis dari bagian dalam ruang sembahyang itu, menjadikan masjid ini berbeda, adalah terletak pada deretan 856 buah kolom pendukung berupa arcade ganda tapal kuda dan lengkungan dengan balok “voussoirs” berwarna merah dan putih dan beronamenkan batu jasper, marmer, onnyx dan granit. Secara struktural kolom-kolom tersebut sangat fungsional karena memberikan ketinggian yang lebih tinggi dalam aula tetapi sekaligus juga menciptakan kesan ruang yang tidak pernah berakhir dengan permainan cahaya dan bayangan yang dramatis sehingga meningkatkan efek visual yang dapat meninggikan kesadaran spiritual.
Meskipun masjid ini diperluas dengan penguasa kemudian (perubahan yang paling signifikan berasal dari masa pemerintahan Abd al-Rahman II antara tahun 833-852, al-Hakam II antara tahun 961-976, dan wazir al-Mansur dari tahun 987), dasar rumus arcade ganda tapal kuda dengan balok voussoirs tetap dipertahankan di setiap perluasan masjid.
Visualisasi yang dihasilkan dari deretan kolom dan arcade yang membentang dari hasil perluasan masjjid menambah suasana magis dan misterius di dalam masjid ini. Deretan kolom tersebut juga diteruskan dengan deretan pohon kurma di Patio de las Naranjas atau Patio Jeruk.
Jejak peninggalan Islam pada Le Mezquita yang sangat terlihat salah satunya adalah Mihrab Masjid dengan ceruk di dinding yang menunjukkan arah Ka’bah yang dihiasi dengan 320 mosaik, campuran dari arsitektur Bizantium dengan pilar corinthean dan ionic. Digambarkan sebagai” permata dari abad kesepuluh, Le Mezquita, Cordoba merupakan situs warisan dunia UNESCO (UNESCO world heritage site).
Di atas ruangan dekat mihrab, yang dulunya merupakan ruang sholat, terdapat kubah dari pengaruh arsitektur Byzantium yang kuat dengan ornament ukiran kaligrafi yang indah. Di area ini yang dulunya merupakan tempat berjamaah utama, mempunyai dekorasi yang paling indah.
Perubahan Masjid menjadi Kathedral.
Setelah menaklukkan Cordoba di 1236, Ferdinand III menjadikan Masjid Agung Cordoba atauLe Mezquita Cordoba sebagai katedral kota. Pada awal abad 16 Uskup dan Kanon kathedral mengusulkan pembangunan sebuah kathedral baru, dan mengusulkan untuk menghancurkan masjid untuk membangunnya. Karena terdapat pertentangan dari dari warga kota agar tidak menghancurkan bangunan tersebut, maka didukung oleh Kaisar Romawi Charles V, mereka memasukkan kathedral Gothic ke dalam jantung Masjid Agung tersebut.
Minaret masjidpun juga akhirnya dirubah menjadi menara lonceng. Hasilnya tentu sangatcontroversial karena adanya kathedral Gothic yang menjulang masuk di dalam bangunan bekas masjid berkosakata Arsitektur Islam Byzantium yang berakar dari bentuk arsitektur klasik.
Dilihat secara kasat mata arsitektur, sangat jelas keberadaan arsitektur Islam terdapat di setiap komposisi arsitektural, detail dan tulisan Arab atau kaligrafi yang ada di setiap pojok bangunan.Selain itu, jejak keberadaan masjid dulunya, juga terlihat dengan adanya water feature yang hadir  di taman luar atau innercourtyard  sebagai sarana pembersihan diri (wudhu) sebelum melakukan ibadah sholat.
Pada akhirnya, perjalanan ke Le Mezquitta merupakan salah satu perjalanan yang membangkitkan emosi spiritual karena ironisnya, kebanyakan sejarah yang diceritakan tidak sesuai dengan keberadaan yang sebenarnya bahwa, kejayaan Islam saat itu memang direnggut oleh kekuasaan Katholik, bukan sebaliknya.
Bahwa, dulunya Le Mezquita Cordoba adalah masjid, yang berakar dari kejayaan kebudayaan Islam abad pertengahan, berdiri megah selama 8 abad, dan pada akhirnya, menjadi saksi sejarah titik Nadir kejayaan Islam pada zaman tersebut….

Program 30 Hari Melatih Pikiran Bawah Sadar berdasarkan The Power of Your Subconscious Mind

Setiap hari ada materi singkat + afirmasi/visualisasi/latihan praktis. --- 📘 Program 30 Hari – The Power of Your Subconscious Mind 🗓 Mingg...