Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pakaian dan perhiasan bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga mencerminkan nilai, identitas, dan keimanan seseorang. Dalam Islam, berpakaian bukan sekadar menutup aurat, tetapi juga memiliki aturan dan etika yang mencerminkan kesopanan, kesederhanaan, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, di zaman sekarang, cara berpakaian dan berhias sering kali lebih dipengaruhi oleh tren dan budaya populer dibandingkan nilai-nilai agama. Maka, muncul pertanyaan kritis:
✅ Bagaimana Islam mengatur cara berpakaian dan berhias?
✅ Apakah kita bisa tetap mengikuti tren tanpa melanggar syariat?
✅ Bagaimana menjaga keseimbangan antara estetika dan ketakwaan?
Mari kita bahas dengan lebih mendalam.
1. Prinsip Berpakaian dalam Islam: Antara Syariat dan Tren
Islam mengajarkan bahwa berpakaian memiliki beberapa prinsip utama, yaitu:
a. Menutup Aurat dengan Sempurna
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa itulah yang lebih baik..." (QS. Al-A’raf: 26)
✅ Laki-laki → Auratnya dari pusar hingga lutut.
✅ Perempuan → Seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Namun, menutup aurat saja belum cukup jika pakaian yang dipakai ketat, transparan, atau menarik perhatian berlebihan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ada dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat... (salah satunya) wanita yang berpakaian tetapi telanjang..." (HR. Muslim)
b. Tidak Berlebihan dan Tidak Menyerupai Lawan Jenis
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki." (HR. Abu Dawud)
Ini bukan hanya soal pakaian fisik, tetapi juga cara berhias, gaya rambut, dan perilaku. Islam mengajarkan keseimbangan antara kesopanan dan keindahan, bukan meniru tren tanpa pertimbangan syariat.
c. Tidak Menjadi Ajang Kesombongan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Pakaian mahal yang dikenakan dengan niat pamer dan menyombongkan diri justru menghilangkan keberkahan. Sebaliknya, Islam menganjurkan untuk berpakaian rapi, bersih, dan sederhana, tanpa perlu berlebihan.
2. Seni Berhias dalam Islam: Antara Keindahan dan Batasan
Islam tidak melarang berhias, tetapi ada aturan yang perlu diperhatikan:
a. Boleh Berhias, Asalkan Tidak Berlebihan
✅ Menggunakan wewangian → Sunnah bagi laki-laki, tetapi bagi perempuan hanya di rumah.
✅ Merawat tubuh dan kebersihan → Sunnah, seperti memotong kuku dan menjaga kebersihan gigi.
✅ Memakai pakaian yang indah → Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan." (HR. Muslim)
Namun, berhias tidak boleh berlebihan hingga melanggar batas syariat, seperti:
❌ Menggunakan pakaian yang terlalu mencolok dan menarik perhatian lawan jenis.
❌ Mengubah ciptaan Allah dengan operasi plastik tanpa alasan medis.
❌ Menggunakan kosmetik dengan bahan yang tidak halal.
b. Larangan Tasyabbuh (Meniru Kaum yang Tidak Beriman)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka." (HR. Abu Dawud)
Sebagai muslim, kita harus bijak dalam mengikuti tren mode. Jika ada tren yang berasal dari budaya yang bertentangan dengan nilai Islam, maka kita harus selektif.
✅ Menggunakan tren fashion yang tetap menutup aurat dan sopan.
❌ Mengikuti tren pakaian yang membuka aurat hanya karena alasan ‘modernisasi’.
3. Tantangan Zaman Sekarang: Bagaimana Menjaga Keseimbangan?
Di era media sosial dan globalisasi, gaya berpakaian dan berhias semakin dipengaruhi oleh tren dunia. Bagaimana cara kita tetap modis tetapi tetap dalam koridor Islam?
a. Memilah Tren yang Sesuai dengan Syariat
Jika ada tren busana muslim yang stylish tetapi tetap syar’i, tidak ada salahnya mengikuti. Sebaliknya, jika tren bertentangan dengan nilai Islam, lebih baik ditinggalkan.
b. Menjadikan Niat sebagai Landasan
Berpakaian dan berhias bukan untuk pamer atau menarik perhatian, tetapi untuk menjaga kehormatan diri. Jika niatnya untuk beribadah dan menunjukkan identitas muslim yang baik, insyaAllah berpahala.
c. Mendidik Diri dan Keluarga
✅ Mengajarkan adab berpakaian kepada anak-anak sejak dini.
✅ Menjelaskan hikmah di balik aturan Islam dalam berpakaian dan berhias.
Kesimpulan
✔ Berpakaian dalam Islam bukan hanya soal menutup aurat, tetapi juga mencerminkan kesopanan, kesederhanaan, dan ketakwaan.
✔ Islam membolehkan berhias, tetapi dengan batasan agar tidak berlebihan atau melanggar syariat.
✔ Sebagai muslim, kita harus selektif dalam mengikuti tren mode, memilih yang sesuai dengan nilai Islam.
✔ Berpakaian dengan baik adalah bagian dari dakwah—menampilkan citra positif Islam kepada orang lain.
Semoga kita semua bisa berpakaian dan berhias dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam, menjaga keseimbangan antara keindahan dan ketakwaan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.