Shalat Tarawih: Kuantitas atau Kualitas?
(Bagaimana Memastikan Shalat Malam Lebih Bermakna?)
Assalamualaikum wr.wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan. Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang telah mengajarkan kita bagaimana menjalani ibadah dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Setiap kali Ramadhan tiba, masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah yang melaksanakan shalat Tarawih. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, ada yang 20 rakaat, bahkan di beberapa tempat ada yang mencapai 36 rakaat.
Namun, pertanyaan penting yang perlu kita renungkan:
Apakah shalat Tarawih yang kita lakukan lebih mementingkan kuantitas atau kualitas?
Apakah kita hanya ingin cepat selesai atau benar-benar merasakan kedekatan dengan Allah?
Dalam kultum ini, kita akan membahas bagaimana memastikan shalat Tarawih menjadi lebih bermakna dan tidak sekadar menjadi rutinitas.
1. Shalat Tarawih: Keutamaan yang Luar Biasa
Shalat Tarawih adalah bagian dari qiyamul lail (shalat malam) yang dianjurkan selama bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang menegakkan (shalat) Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat Tarawih bukan sekadar ibadah biasa. Jika dilakukan dengan iman dan keikhlasan, maka ia menjadi sarana penghapusan dosa-dosa.
Tetapi, apakah kita sudah benar-benar mengerjakannya dengan kesungguhan?
2. Kuantitas vs. Kualitas dalam Shalat Tarawih
Ada perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih. Rasulullah ﷺ tidak pernah membatasi jumlah rakaatnya, tetapi beliau sering melakukan 11 rakaat, termasuk witir.
Di zaman Khalifah Umar bin Khattab, shalat Tarawih dilakukan 20 rakaat secara berjamaah untuk memudahkan umat Islam. Di berbagai daerah, ada yang menambah hingga 36 rakaat.
Namun, perbedaan jumlah rakaat ini seharusnya tidak menjadi perdebatan, karena yang lebih penting adalah kualitas shalat itu sendiri.
Sering kali kita melihat:
Ada yang shalat cepat, hingga bacaan imam sulit dipahami.
Ada yang mengejar jumlah rakaat, tetapi tidak benar-benar merasakan shalatnya.
Ada yang hadir di masjid, tetapi pikirannya melayang ke hal lain.
Padahal, shalat yang berkualitas lebih utama daripada sekadar banyak rakaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya seseorang yang shalat, tetapi tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan… hingga sepersepuluh pahalanya." (HR. Abu Dawud & Ahmad)
Artinya, semakin tidak khusyuk seseorang dalam shalat, semakin sedikit pula pahalanya.
Maka, pertanyaannya: Bagaimana cara meningkatkan kualitas shalat Tarawih kita?
3. Cara Memastikan Shalat Tarawih Lebih Bermakna
Agar shalat Tarawih tidak sekadar menjadi rutinitas, kita bisa melakukan beberapa hal berikut:
1. Niat yang Ikhlas
Shalat Tarawih bukan sekadar ikut-ikutan atau ingin dilihat orang lain. Kita harus melakukannya karena Allah, dengan harapan mendapatkan ampunan-Nya.
Allah SWT berfirman:
"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama…" (QS. Al-Bayyinah: 5)
2. Memahami Bacaan dalam Shalat
Salah satu penyebab kurangnya kekhusyukan dalam shalat adalah tidak memahami bacaan yang kita ucapkan.
Ketika membaca Al-Fatihah, resapi maknanya sebagai doa dan pujian kepada Allah.
Saat mendengar bacaan imam, renungkan isi ayat-ayatnya.
Dengan memahami maknanya, kita akan lebih fokus dan merasakan shalat sebagai komunikasi dengan Allah.
3. Tidak Terburu-Buru dalam Gerakan
Banyak orang tergesa-gesa dalam shalat, terutama jika imam membaca dengan cepat. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Bukhari)
Beliau selalu tenang dalam rukuk dan sujud, memberikan waktu bagi tubuh dan hati untuk benar-benar merasakan ibadah.
Maka, dalam shalat Tarawih, jangan hanya mengikuti imam dengan cepat, tetapi berusaha untuk tetap tenang dan khusyuk dalam setiap gerakan.
4. Berusaha Shalat dengan Hati, Bukan Hanya Tubuh
Kadang kita shalat dengan tubuh, tetapi hati tidak ikut serta. Pikiran kita melayang ke urusan dunia, pekerjaan, atau hal lain.
Untuk mengatasi ini, kita bisa mencoba:
Fokus pada setiap bacaan dan gerakan
Mengingat bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah
Berdoa di setiap sujud dengan penuh harapan
Dengan begitu, shalat kita akan terasa lebih bermakna.
5. Mengutamakan Konsistensi daripada Jumlah Rakaat
Daripada memaksakan diri melakukan 20 rakaat dengan terburu-buru, lebih baik melakukan 8 rakaat dengan penuh kekhusyukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus, meskipun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)
Jika kita mampu melakukan 20 rakaat dengan khusyuk, itu lebih baik. Tetapi jika hanya mampu 8 rakaat dengan kualitas yang baik, itu juga sangat bernilai.
4. Kesimpulan: Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas
Hadirin yang dirahmati Allah,
Shalat Tarawih adalah salah satu ibadah istimewa di bulan Ramadhan. Namun, jumlah rakaat bukanlah hal yang paling utama. Yang lebih penting adalah bagaimana kita merasakan shalat sebagai bentuk komunikasi dengan Allah.
Mari kita renungkan:
Apakah kita shalat dengan hati yang hadir atau hanya sekadar ikut-ikutan?
Apakah kita merasa dekat dengan Allah setelah shalat atau hanya merasa lelah?
Apakah kita benar-benar mendapatkan manfaat spiritual dari shalat Tarawih yang kita lakukan?
Jangan sampai shalat kita hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalani shalat Tarawih dengan kualitas yang lebih baik, sehingga Ramadhan kali ini benar-benar membawa perubahan dalam hidup kita.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan