Menanti Waktu yang Terasa Begitu Lama
Hufff... aku menghela napas panjang. Rasanya puasa kali ini berjalan begitu lambat. Seakan-akan waktu bersekongkol untuk memperlambat setiap detik yang berlalu. Aku mencoba menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan—membaca, menonton, bermain, bahkan sekadar berjalan-jalan di sekitar rumah. Namun, tidak peduli seberapa banyak hal yang kulakukan, tetap saja aku merasakan betapa lambatnya waktu bergerak.
Setiap kali aku melihat jam, harapanku selalu sama: semoga waktu sudah berjalan lebih jauh, semoga esok segera tiba. Namun, yang kudapatkan justru sebaliknya. Jarum jam seolah bergerak malas, enggan berpindah lebih cepat. Aku mencoba mengalihkan perhatian, tapi tidak ada yang benar-benar mampu membuatku lupa akan lamanya waktu yang berlalu.
Aku berpikir, apakah ini hanya perasaanku saja? Ataukah memang waktu berjalan lebih lambat saat kita sedang menunggu sesuatu? Mungkin benar adanya bahwa ketika kita menantikan sesuatu dengan penuh harapan, waktu justru terasa semakin panjang. Seperti menunggu hujan turun di musim kemarau, seperti menanti pagi saat malam terasa begitu panjang.
Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, tetapi tetap saja perasaan bosan mulai menyusup. Ingin rasanya langsung melompat ke hari esok, melewati semua detik yang terasa begitu lamban ini. Namun, aku tahu itu tidak mungkin. Aku hanya bisa terus menunggu, berharap hari segera berganti dan waktu tidak lagi terasa seberat ini.
Mungkin, inilah tantangan dalam menunggu—bukan hanya tentang bersabar, tetapi juga tentang bagaimana kita mengisi waktu agar tidak terasa membosankan. Aku menarik napas dalam, mencoba menikmati setiap momen meskipun terasa lambat. Toh, pada akhirnya, waktu akan tetap berjalan, meskipun tidak secepat yang kuinginkan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan