Selasa, 12 Julai 2011

sejarah

Pada abad ke-14 Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit memerintah di Kerajaan Negara Dipa (Amuntai) dengan wilayah mandalanya dari Tanjung Silat sampai Tanjung Puting dengan daerah-daerah yang disebut Sakai, yaitu daerah sungai Barito, Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit, Labuan Amas, Biaju Kecil (Kapuas-Murung), Biaju Besar (Kahayan), Sebangau, Mendawai, Katingan, Sampit dan Pembuang yang kepala daerah-daerah tersebut disebut Mantri Sakai, sedangkan wilayah Kotawaringin pada masa itu merupakan kerajaan tersendiri.[3]

Selanjutnya Kalimantan Tengah masih termasuk dalam wilayah Kesultanan Banjar, penerus Negara Dipa. Pada abad ke-16, berkuasalah Raja Maruhum Panambahan yang beristrikan Nyai Siti Biang Lawai, seorang puteri Dayak anak Patih Rumbih dari Biaju. Tentara Biaju kerapkali dilibatkan dalam revolusi di istana Banjar, bahkan dengan aksi pemotongan kepala (ngayau) misalnya saudara muda Nyai Biang Lawai bernama Panglima Sorang (Nanang Sarang) membantu Raja Maruhum menumpas pemberontakan anak-anak Kiai Di Podok, demikian juga di masa Pangeran Suryanata II (Sultan Agung). Raja Maruhum menugaskan Dipati Ngganding untuk memerintah di negeri Kotawaringin. Dipati Ngganding digantikan oleh menantunya, yaitu Pangeran Dipati Anta-Kasuma putra Raja Maruhum sebagai raja Kotawaringin yang pertama dengan gelar Ratu Kota Waringin. Pangeran Dipati Anta-Kasuma adalah suami dari Andin Juluk binti Dipati Ngganding dan Nyai Tapu binti Mantri Kahayan. Di Kotawaringin Pangeran Dipati Anta-Kasuma menikahi wanita setempat dan memperoleh anak, yaitu Pangeran Amas dan Putri Lanting.[3] Pangeran Amas yang bergelar Ratu Amas inilah yang menjadi raja Kotawaringin, penggantinya berlanjut hingga Raja Kotawaringin sekarang, yaitu Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah. Kontrak pertama Kotawaringin dengan VOC-Belanda terjadi pada tahun 1637.[4]Menurut laporan Radermacher, pada tahun 1780 telah terdapat pemerintahan pribumi seperti Kyai Ingebai Suradi Raya kepala daerah Mendawai, Kyai Ingebai Sudi Ratu kepala daerah Sampit, Raden Jaya kepala daerah Pembuang dan kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang bergelar Ratu Kota Ringin[5]

Berdasarkan traktat 13 Agustus 1787, Sunan Nata Alam dari Banjarmasin menyerahkan daerah-daerah di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada VOC, sedangkan Kesultanan Banjar sendiri dengan wilayahnya yang tersisa sepanjang daerah Kuin Utara, Martapura sampai Tamiang Layang dan Mengkatip menjadi daerah protektorat VOC, Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Tengah beserta daerah-daerah lainnya kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Selanjutnya kepala-kepala daerah di Kalimantan Tengah berada di bawah Hindia Belanda.[6]

Berdasarkan Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, daerah-daerah di wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling menurut Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.[7] Daerah-daerah di Kalteng tergolang sebagai negara dependen dan distrik dalam Kesultanan Banjar.[8]

Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan. Tahun 1520, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kesultanan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1615 Kesultanan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah : Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman. Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, diantaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah. Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh daerah, dikuasai VOC. Pada tanggal 1 Mei 1859 pemerintah Hindia Belanda membuka pelabuhan di Sampit.[9] Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk dijadikan petugas-petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal, berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman gugur sebagai kusuma bangsa di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu. Tahun 1835, Agama Kristen Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh. Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935 terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda. Menurut Hermogenes Ugang , pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan ketekunannya hilir-mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membaptiskan tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan beliau dipusatkan di daerah hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan beliau terasa sampai ke daerah Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang-orang Ngaju mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Surya Alam, karena orang Biaju (Ngaju) pendukung Sultan Agung (saingannya Sultan Surya Alam). Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu-ribu umat Katholik orang Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh Pastor Ventimiglia kepada mereka. Namun tanda salib tersebut telah kehilangan arti yang sebenarnya. Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang berkhasiat magis sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa Banjar.

Di masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah, sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia. Tahun 1945, Persatuan Dayak yang berpusat di Pontianak, kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan, dipelopori oleh J. Uvang Uray , F.J. Palaunsuka, A. Djaelani, T. Brahim, F.D. Leiden. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Tahun 1942, Kalimantan Tengah disebut Afdeeling Kapoeas-Barito yang terbagi 6 divisi.[10]
[sunting]
Kondisi dan Sumber Daya Alam
[sunting]
Kondisi Alam

Bagian Utara terdiri Pegunungan Muller Swachner dan perbukitan, bagian Selatan dataran rendah, rawa dan paya-paya. Berbatasan dengan tiga Provinsi Indonesia, yaitu Kalimantan Timur, Selatan dan Barat serta Laut Jawa. Wilayah ini beriklim tropis lembab yang dilintasi oleh garis equator.
[sunting]
Keanekaragaman Hayati

Banyak yang belum diketahui, dengan ragam wilayah pantai, gunung/bukit, dataran rendah dan paya, segala macam vegetasi tropis mendominasi alam daerah ini. Orangutan merupakan hewan endemik yang masih banyak di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting yang memiliki areal mencapai 300.000 ha di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Terdapat beruang, landak, owa-owa, beruk, kera, bekantan, trenggiling, buaya, kukang, paus air tawar (tampahas), arwana, manjuhan, biota laut, penyu, bulus, burung rangkong, betet/beo dan hewan lain yang bervariasi tinggi.
[sunting]
Sumber Daya Alam

Hutan mendominasi wilayah 80%. Hutan primer tersisa sekitar 25% dari luas wilayah. Lahan yang luas saat ini mulai didominasi kebun Kelapa Sawit yang mencapai 700.000 ha (2007). Perkebunan karet dan rotan rakyat masih tersebar hampir diseluruh daerah, terutama di Kabupaten Kapuas, Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas dan Kotawaringin Timur.

Banyak ragam potensi sumber alam, antara lain yang sudah diusahakan berupa tambang batubara, emas, zirkon, besi. Terdapat pula tembaga, kaolin, batu permata dan lain-lain.
[sunting]
Sosial Kemasyarakatan
[sunting]
Suku Bangsa

Busana Adat Kotawarigin Barat yang dipengaruh budaya Melayu-Banjar dan Jawa-Surakarta.

Sebutan umum suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju (dominan), suku lainnya yang tinggal di pesisir adalah Banjar Melayu Pantai merupakan 24,20% populasi. Disamping itu ada pula suku Jawa, Madura, Bugis dan lain-lain. Gabungan suku Dayak (Ngaju, Sampit, Maanyan, Bakumpai) mencapai 37,90%.[11]
Komposisi Sukubangsa di Kalimantan TengahSuku Bangsa Central Borneo 1930 (termasuk sebagian Kalbar)[12][13] Kalteng 2000[11] 2010
Total 393,282 - -
Rumpun Dayak 63,49% - -
Dayak Ngaju (Dayak) 18,02% -
Dayak Sampit (Dayak) 9,57% -
Dayak Bakumpai (Dayak) 7,51% -
Dayak Katingan (Dayak) 3,34% -
Dayak Maanyan (Dayak) 2,80% -
Melayu 26,64% (Melayu Banjar) -
Melayu Banjar 5,95% 24,20% -
Jawa 2,51% 18,06% -
Bugis 1,09% - -
Madura - 3,46% -
Suku lainnya 0,32% ...% -




Suku Dayak di Kalimantan Tengah antara lain:
Suku Dayak Ot Danum
Suku Dayak Ngaju
Suku Dayak Bakumpai
Suku Dayak Maanyan
Suku Dayak Dusun
Suku Dayak Lawangan
Suku Dayak Siang Murung
Suku Dayak Punan
Suku Dayak Sampit
Suku Dayak Kotawaringin Barat
Suku Dayak Katingan
Suku Dayak Bawo
Suku Dayak Taboyan
Suku Dayak Mangkatip
[sunting]
Bahasa

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Tengah, bahasa daerah (lokal) terdapat pada 11 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang meliputi 9 bahasa dominan dan 13 bahasa minoritas, yaitu:
Bahasa dominan :
Bahasa Melayu
Bahasa Banjar
Bahasa Ngaju
Bahasa Manyan
Bahasa Ot Danum
Bahasa Katingan
Bahasa Bakumpai
Bahasa Tamuan
Bahasa Sampit[14]
Bahasa kelompok minoritas :
Bahasa Mentaya
Bahasa Pembuang
Bahasa Dusun Kalahien
Bahasa Balai
Bahasa Bulik
Bahasa Mendawai
Bahasa Dusun Bayan
Bahasa Dusun Tawoyan
Bahasa Dusun Lawangan
Bahasa Dayak Barean
Bahasa Dayak Bara Injey
Bahasa Kadoreh
Bahasa Waringin
Bahasa Kuhin (bahasa daerah pedalaman Seruyan Hulu)
[sunting]
Agama

Seperti daerah lain di Indonesia, di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat berbagai jenis agama dan kepercayaan yang menyebar diseluruh daerah ini, antara lain :
Islam
Kristen Prostestan
Katolik
Hindu Bali
Budha
Hindu Kaharingan

Kaharingan adalah kepercayaan penduduk asli Kalimantan Tengah yang hanya terdapat di daerah Kalimantan sehingga untuk dapat diakui sebagai agama maka digabungkan dalam agama Hindu. Penganut Agama Hindu Kaharingan tersebar di daerah Kalimantan Tengah dan banyak terdapat di bagian hulu sungai, antara lain hulu sungai Kahayan, sungai Katingan dan hulu sungai lainnya.[15]
[sunting]
Pendidikan

Geliat dunia pendidikan di Kalimantan Tengah sekarang sedang berkembang dengan pesat. Hal tersebut ditandai dengan bermunculannya berbagai lembaga pendidikan serta keberadaan beberapa Universitas dan Sekolah Tinggi di Kalimantan Tengah.

Universitas Negeri Palangka Raya merupakan Universitas Negeri yang ada di Kalimantan Tengah, selain itu terdapat Universitas Muhammadiyah serta beberapa sekolah tinggi lainnya yang ikut memberikan sumbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kalimantan Tengah, seperti Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai serta Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Palangka Raya. Tak lupa pula berbagai Universitas maupun Sekolah Tinggi rintisan yang terdapat di Kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah.
[sunting]
Pemerintahan
[sunting]
Kabupaten dan Kota

Provinsi Kalimantan Tengah dibagi menjadi beberapa Daerah Tingkat II, yaitu:No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Barito Selatan Buntok
2 Kabupaten Barito Timur Tamiang
3 Kabupaten Barito Utara Muara Teweh
4 Kabupaten Gunung Mas Kuala Kurun
5 Kabupaten Kapuas Kuala Kapuas
6 Kabupaten Katingan Kasongan
7 Kabupaten Kotawaringin Barat Pangkalan Bun
8 Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit
9 Kabupaten Lamandau Nanga Bulik
10 Kabupaten Murung Raya Purukcahu
11 Kabupaten Pulang Pisau Pulang Pisau
12 Kabupaten Sukamara Sukamara
13 Kabupaten Seruyan Kuala Pembuang
14 Kota Palangka Raya -



[sunting]
Daftar gubernurNo. Foto Nama Dari Sampai Keterangan
1. R.T.A. Milono 1 Januari 1957 30 Juni 1958
2. Tjilik Riwut 30 Juni 1958 Februari 1967
3. Reinout Sylvanus Februari 1967 3 Oktober 1978
4. Willy Annania Gara 3 Oktober 1978 7 Oktober 1983
5. Eddy Sabara 7 Oktober 1983 23 Januari 1984
6. Gatot Amrih 23 Oktober 1984 21 Januari 1989
7. Suparmanto 23 Januari 1989 22 Januari 1993
8. Warsito Rasman 17 Juli 1994 Juli 1999
9. Rappiudin Hamarung Juli 1999 8 Maret 2000
10. Asmawi Agani 8 Maret 2000 23 Maret 2005
11. Sodjuangan Situmorang 23 Maret 2005 4 Agustus 2005 Penjabat Gubernur
12. Agustin Teras Narang 4 Agustus 2005 3 Agustus 2010 periode pertama
13. Agustin Teras Narang 4 Agustus 2010 sekarang periode kedua



[sunting]
Unsur Musyawarah Pimpinan Daerah
Gubernur : Agustin Teras Narang, S.H.
Wakil Gubernur : Ir. H. Achmad Diran
Sekretaris Daerah : DR. Siun Jarias, S.H, M.H.
Ketua DPRD : R. Atu Narang
Kapolda : Brigjend. Pol. Drs. H. Damianus Jackie
[sunting]
Perekonomian
[sunting]
Tenaga Kerja

Penduduk Usia 15 Tahun Lebih Menurut Kegiatan[16]Kegiatan Utama Februari 2006 Agustus 2006 Februari 2007 Februari 2008
Penduduk Usia 15 Tahun Lebih 1.387.244 1.398.307 1.411.568 1.438.271
Angkatan Kerja 991.764 944.266 1.100.430 1.077.831
Bekerja 991.764 944.266 1.045.186 1.026.211

[sunting]
Potensi Perikanan

Potensi perikanan di Kalimantan Tengah sangat besar, khususnya perikanan air tawar. Hal itu dikarenakan luasnya wilayah perairan tawar seperti sungai, danau dan rawa di Kalimantan Tengah.
[sunting]
Pertambangan

Sebagian besar penduduk di wilayah Katingan, Khususnya Kecamatan Katingan Tengah bermata pencaharian sebagai petani dan penambang. Hasil tambang utama yang diperoleh adalah emas dan puya (pasir zirkon) yang berwarna merah. Masyarakat dalam melakukan penambangan masih bersifat tradisional sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal.
[sunting]
Transportasi

Bandar udara Tjilik Riwut Palangka Raya telah bisa melayani penerbangan dari dan ke Surabaya dan Jakarta direct, menggunakan pesawat jet berbadan lebar jenis Boeing 737-200, 737-300 dan 737-400. Penerbangan ini dilayani oleh 4 maskapai, yaitu: Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Lion Air dan Batavia Air. Bandar udara kesayangan masyarakat Palangka Raya ini memiliki pcn 29 fczu, bisa dilintasi dengan mobil maupun taksi.
[sunting]
Seni dan Budaya
[sunting]
Seni Musik

Seni musik yang dikenal di daerah ini antara lain:

Chordophone
Kacapi
Rebab

Idiophone
Berbagai jenis Gong
Kangkanung

Membranophone
Berbagai jenis Kendang (Gandang)
Katambung
[sunting]
Seni Vokal

Seni vokal yang populer di wilayah ini adalah:
Karungut
Kandan
Mansana
Kalalai Lalai
Ngendau
Natum
Dodoi
Marung
[sunting]
Tarian

Jenis-jenis tarian yang terdapat di daerah ini antara lain:
Tari Hugo dan Huda
Tari Putri Malawen
Tari Tuntung Tulus dari Barito Timur
Tari Giring-giring
Manasai
Tari Balian Bawo
Tari Balian Dadas
Manganjan
[sunting]
Seni Kriya

Seni kriya yang berkembang di wilayah ini adalah:
Seni Pahat patung Sapundu
Seni lukis
Tatto
Anyaman
Seni dari bahan Getah Nyatu
[sunting]
Seni bela diri

1. Kuntau
[sunting]
Upacara Adat
Wadian
Upacara Tiwah (upacara memindahkan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
Wara (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
Balian (upacara atau prosesi pengobatan)
Potong Pantan (upacara peresmian atau penyambutan tamu kehormatan)
Mapalas (upacara membuang sial atau membersihkan diri dari malapetaka)
Ijambe (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
[sunting]
Pakaian Pengantin

Pengantin pria Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit perak atau tali pinggang dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan hiasan bulu enggang, kalung dan subang.
[sunting]
Daftar Nama Kapolres di Wilayah Hukum Polda Kalimantan Tengah
Kapolresta Palangka Raya: AKBP Andreas Wayan Wisaksono, SIK
Kapolres Katingan: AKBP Teuku Saladin, SH
Kapolres Kotawaringin Timur: AKBP Abdul Hasyim, SH, M.Si
Kapolres Kotawaringin Barat: AKBP Nuryadi Purtono, SIK
Kapolres Lamandau: AKBP Gusde Wardana
Kapolres Seruyan: AKBP Gunawan Prijambodo, SIK
Kapolres Sukamara: AKBP I Nyoman Artana
Kapolres Kapuas: AKBP Wisnu Putra, SIK
Kapolres Pulang Pisau: AKBP I Putu T Mahayana
Kapolres Gunung Mas: AKBP I Made Dewa Butirwa, SST, MK
Kapolres Barito Utara: AKBP Drs. Yan Frist Kaiway
Kapolres Barito Selatan: AKBP Drs. Juhana Zulfan, MM
Kapolres Barito Timur: AKBP Bermen J.P. Sianturi, SIK
Kapolres Murung Raya: AKBP Yus Fadillah, SIK
[sunting]
Pranala luar
(Indonesia) Situs resmi pemerintah provinsi
(Indonesia) Profil Demografi Kalteng
(Indonesia) Profil Ekonomi Kalteng
(Indonesia) Profil Wisata Kalteng
(Indonesia) Ekonomi Regional Kalteng
(Indonesia) Statistik Regional Kalteng
(Indonesia) Situs Lembaga Studi Dayak 21
(Indonesia) Situs Orang Palangka Raya
(Indonesia) Situs Komunitas Warga Kalimantan Tengah
(Indonesia) Portal Daring Tentang Kalimantan Tengah
(Indonesia) Dayak Art Music
(Indonesia) www.nila-riwut.com
(Indonesia) Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah
(Indonesia) Situs Pemerintah Kota Palangka Raya
[sunting]
Referensi
^ "Perpres No. 6 Tahun 2011". 17 Februari 2011. Diakses pada 23 Mei 2011.
^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 5 Juli 2003.
^ a b (Melayu)Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405.ISBN 983621240X
^ (Belanda) L. C. van Dijk, Ne©erland's vroegste betrekkingen met Borneo, den Solo-Archipel, Camobdja, Siam en Cochin-China, Scheltema, 1862
^ (Inggris) The New American Encyclopaedia (1865). The New American Encyclopaedia: a popular dictionary of general knowledge. 2. D. Appleton.
^ (Inggris)Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië. 23. Nederlandsch-Indië. pp. 205.
^ (Belanda) Nederlandisch Indië (1849). Staatsblad van Nederlandisch Indië. s.n..
^ (Inggris)Royal Geographical Society (Great Britain) (1856). A Gazetteer of the world: or, Dictionary of geographical knowledge, compiled from the most recent authorities, and forming a complete body of modern geography -- physical, political, statistical, historical, and ethnographical. 5. A. Fullarton.
^ (Inggris) Cilacap (1830-1942): bangkit dan runtuhnya suatu pelabuhan di Jawa. Kepustakaan Populer Gramedia. 5 Juli 2002. ISBN 9789799023698.ISBN 979-9023-69-6
^ Borneo in 1942
^ a b (Indonesia) Riwanto Tirtosudarmo, Mencari Indonesia: demografi-politik pasca-Soeharto, Yayasan Obor Indonesia, 2007, ISBN 979-799-083-4, 9789797990831
^ (Inggris) A. J. Gooszen, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), A demographic history of the Indonesian archipelago, 1880-1942, KITLV Press, 1999 ISBN 9067181285, 9789067181280
^ Administrative subdivisions in Dutch Borneo and Sarawak, 1930
^ Bahasa Sampit
^ (Perancis)Sevin, Olivier (1983). Les Dayak du centre Kalimantan: étude géographique du Pays ngaju, de la Seruyan à la Kahayan. IRD Editions. ISBN 9782709907002.ISBN 2-7099-0700-3
^ Sumber: Badan Pusat Statisktik, Provinsi Kalimantan Tengah

Dohong dan Tingang cerita dari Kalimantan Tengah - Indonesia

Dohong adalah seorang pemuda kampung yang sehari-harinya menangkap burung di hutan di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Suatu hari, sepulang dari menangkap burung, Dohong dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis cantik jelita di pondoknya. Siapakah gadis cantik itu? Lalu apa yang akan dilakukan Dohong terhadap gadis cantik itu? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Dohong dan Tingang berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Kalimantan Tengah ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kalang. Raja yang memerintah kerajaan tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Intan. Selain cantik, Putri Intan adalah seorang gadis yang berperangai baik, santun dalam berbicara, sopan dalam bergaul, dan hormat kepada yang tua. Tak heran, jika seluruh rakyat negeri itu sayang dan hormat kepadanya, kecuali seorang dayang istana. Setiap kali Putri Intan mendapat pujian dari rakyatnya, dayang yang satu ini selalu menunjukkan sikap tidak senang dan iri hati kepada sang Putri.

“Awas kau Putri! Suatu saat nanti aku akan menyingkirkanmu dari istana ini!” ucap dayang itu geram.

“Tapi, bagaimana caranya?” gumamnya bingung.

Setelah sekian lama berpikir, dayang itu pun menemukan sebuah cara untuk menyingkirkan Putri Intan dari istana.

“Hmmm... aku tahu caranya. Aku akan menyebarkan fitnah dengan menceritakan kepada semua orang bahwa Putri Intan selalu memperlakukanku secara semena-semana. Aku juga akan melaporkan kepada Raja bahwa ia selalu memeras rakyat,” pikirnya.

Keesokan harinya, dayang itu melaksanakan tipu muslihatnya. Dalam waktu tidak terlalu lama, fitnah tersebut telah menyebar hingga ke seluruh penjuru negeri. Seluruh rakyat pun terhasut oleh cerita yang dibuat-buat oleh dayang tersebut, sehingga mereka berubah sikap terhadap Putri Intan. Setelah berhasil menghasut seluruh rakyat negeri, dayang itu pun mencoba untuk menghasut sang Raja.

“Ampun, Baginda Raja! Perilaku putri Baginda benar-benar sudah keterlaluan. Ia telah membuat aib bagi keluarga istana. Sebagai seorang putri Raja, tidak sepantasnya ia berperilaku demikian. Untuk menjaga martabat kerajaan ini, sebaiknya Putri Intan dikeluarkan dari istana,” hasut dayang itu.

Tipu muslihat dan hasutan dayang itu berhasil memengaruhi Raja, sehingga ia pun menjadi benci kepada putrinya sendiri. Putri Intan pun mulai bingung melihat sikap orang-orang di sekitarnya, termasuk ayahandanya, yang tiba-tiba membencinya. Suatu hari, Putri Intan bertanya kepada ibundanya.

“Bunda! Apa salah Ananda hingga orang-orang membenci Ananda?”

“Putriku, barangkali ada ucapan atau perilaku Nanda yang kurang baik terhadap orang lain yang tidak Nanda sadari. Mulai sekarang, Nanda harus lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak,” ujar permaisuri.

Putri Intan semakin bingung, karena ia merasa bahwa selama ini tidak pernah menghina apalagi menganiaya orang lain. Oleh karena penasaran ingin mengetahui penyebabnya, ia pun bertanya kepada dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Namun, tak satu pun di antara mereka yang mengetahuinya.

Sementara itu, si dayang yang iri hati tersebut terus menghasut sang Raja, sehingga kebencian sang Raja semakin menjadi-jadi. Berkali-kali sang Putri menghadap untuk menanyakan kesalahannya, namun sang Raja tidak menghiraukannya. Ia lebih percaya pada ucapan dayangnya tersebut. Akhirnya, suatu ketika sang Raja pun mengusir putrinya dari istana.

“Dasar, anak tidak tahu diri! Kamu tidak pantas menjadi putri kerajaan ini. Pergi dari istana ini!” usir sang Raja.

Dengan perasaan sedih dan deraian air mata, Putri Intan pergi meninggalkan istana. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil berdoa kepada Tuhan.

“Ya Tuhan Yang Maha Adil tunjukkanlah keadilan-Mu kepada hamba! Siapakah yang menyebarkan fitnah ini?” ucap Putri Intan.

Sejak itu, Putri Intan menjadi rakyat biasa. Ia tinggal di pinggir hutan seorang diri karena semua warga telah membencinya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia mencari buah-buahan dan berburu binatang di hutan sekitarnya. Ia menjalani hidupnya dengan pasrah dan tidak dendam kepada orang yang telah memfitnahnya. Namun, ia yakin bahwa cepat atau lambat keadilan pasti akan datang.

Suatu hari, Putri Intan sedang berburu binatang di hutan itu. Sudah setengah hari ia berburu namun belum juga mendapatkan binatang buruan. Ia pun memutuskan untuk berburu hingga ke tengah-tengah hutan. Setelah beberapa jauh berjalan, sampailah ia di tengah hutan yang sangat lebat. Di sekelilingnya terdapat banyak pohon besar yang daunnya sangat rindang. Suasana tempat itu agak gelap karena sinar matahari terlindung oleh lebatnya dedaunan. Saat mengamati keadaan di sekitarnya, tiba-tiba Putri Intan dikejutkan oleh suara tawa yang sangat menyeramkan.

“Hi... hi... hi... hi....!!!”

Mendengar suara itu, jantung Putri Intan tiba-tiba berdebar kencang. Ia pun mundur beberapa langkah sambil mengelus-elus dadanya karena ketakutan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek berdiri tidak jauh di depannya sedang memegang sebuah tongkat. Wajah nenek itu sangat mengerikan dan rambutnya panjang acak-acakan. Rupanya nenek itu baru saja menyelesaikan pertapaannya.

“Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya nenek sihir itu.

“Aku Putri Intan. Aku diusir oleh ayahandaku dari istana,” jawab Putri Intan.

“Wah... kebetulan sekali aku bertemu dengan gadis yang terbuang. Aku ingin mencoba ilmu yang baru kuperoleh dari pertapaanku. Aku akan menyihirmu menjadi seeokor binatang,” kata nenek itu.

“Ampun, Nek! Jangan sihir aku!” pinta Putri Intan mengiba.

Berkali-kali Putri Intan mengiba, namun nenek sihir itu tidak menghiraukannya. Nenek itu kemudian membaca mantra sambil mengacung-acungkan tongkatnya. Tak pelak lagi, Putri Intan pun terkena sihir nenek itu dan serta merta berubah menjadi seekor burung tingang.

“Sihir di tubuhmu akan hilang jika kamu bertemu dengan pemuda yang akan membawamu kembali ke istana,” kata nenek itu.

Usai menyihir Putri Intan, nenek itu tiba-tiba menghilang entah ke mana, dan burung tingang jelmaan Putri Intan terbang ke sana kemari sambil berkicau merdu. Sejak itu, burung tingang hidup di tengah hutan tersebut. Ia terbang dari satu pohon ke pohon lainnya mencari makanan.

Pada suatu hari, burung tingang itu hinggap di sebuah pohon yang berbuah lebat. Betapa terkejutnya ia ketika akan meninggalkan pohon itu, kakinya terikat oleh perangkap sehingga tidak dapat bergerak. Berkali-kali ia meronta-ronta sambil mengepak-ngepakkan sayapnya hendak melepaskan diri, namun usahanya tetap gagal. Akhirnya, ia pun pasrah sambil berharap ada orang yang akan menolongnya.

Tak berapa lama kemudian, burung tingang mendengar langkah seseorang yang mendekat. Ia pun cepat-cepat berkicau merdu sambil meronta-ronta untuk menarik perhatian orang yang lewat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang pemuda tampan bernama Dohong. Ia bermaksud memeriksa perangkap yang dipasangnya kemarin. Rupanya, perangkap yang menjerat kaki burung tingang itu adalah miliknya.

Pemuda itu sangat gembira saat melihat seekor burung tingang meronta-ronta terkena perangkapnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera naik ke atas pohon untuk mengambil burung tangkapannya. Setelah memasang kembali perangkapnya, pemuda itu mengamati burung itu secara seksama.

“Wah, cantik sekali burung ini! Bulunya indah dan halus, matanya bening berbinar, kicauannya pun sangat merdu. Selama hidupku, baru kali ini aku memperoleh burung secantik ini,” ucap Dohong dengan kagum.

Dengan perasaan senang, Dohong segera membawa pulang burung itu untuk dipelihara. Setibanya di pondok, ia pun memasukkannya ke dalam sebuah sangkar yang terbuat dari rotan. Setiap hari ia merawat burung tingang itu dengan sangat teliti.

Keesokan harinya, Dohong kembali ke tengah hutan untuk memeriksa perangkapnya. Namun, sial nasib Dohong hari itu, karena tak seekor pun burung yang diperolehnya. Ketika hari menjelang siang, ia pun memutuskan untuk kembali ke pondoknya, karena tidak kuat lagi menahan rasa lapar.

Betapa terkejutnya ketika Dohong sampai di pondoknya. Ia melihat makanan lezat telah tersaji dan siap untuk disantap. Makanan tersebut benar-benar membangkitkan seleranya, apalagi perutnya dalam keadaan lapar, sehingga Dohong tidak memikirkan lagi siapa orang yang telah menyiapkan makanan tersebut. Ia pun segera menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.

Keesokan harinya, sepulang dari hutan, Dohong kembali mendapati makanan lezat telah tersaji di pondoknya. Kejadian aneh tersebut terulang hingga tiga hari berturut-turut. Dohong pun mulai penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan semua itu.

Pada hari berikutnya, pemuda tampan itu berpura-pura hendak memeriksa perangkapnya. Sebelum hari menjelang siang, ia masuk ke pondoknya dengan langkah hati-hati. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat asap tebal keluar dari sangkar burungnya. Dalam sekejap, tiba-tiba seorang gadis cantik keluar dari asap itu. Ia sangat terpana melihat kencantikan gadis itu, dan kemudian menghampirinya.

“Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya Dohong.

“Ampun, Tuan! Aku adalah Putri Intan dari Kerajaan Kalang. Keberadaanku di sini karena nasib buruk telah menimpaku. Ayahandaku mengusirku dari istana. Setelah itu, seorang nenek menyihirku menjadi burung tingang saat aku berada di tengah hutan,” jelas Putri Intan.

“Maaf, Tuan Putri! Mengapa Tuan Putri diusir dari istana?” tanya Dohong ingin tahu.

Putri Intan pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai ia berada di pondok pemuda itu. Setelah itu, ia meminta kepada Dohong agar mengantarnya kembali ke istana. Jika Dohong memenuhi permintaannya, maka sihir nenek itu akan hilang dengan sendirinya.

“Baiklah, Tuan Putri! Saya bersedia mengantar Tuan Putri ke istana,” kata Dohong.

Keesokan harinya, keduanya pun berangkat ke istana. Selama dalam perjalanan, Putri Intan pun tidak pernah lagi berubah wujud menjadi burung tingang. Pengaruh sihir nenek itu benar-benar telah hilang.

Sesampainya di istana, Dohong pun menceritakan semua yang dialami Putri Intan kepada Raja Kalang dan permaisuri. Akhirnya, Raja Kalang pun mengerti bahwa putrinya difitnah oleh seorang dayang istana. Seketika itu pula, ia mengumpulkan seluruh dayang-dayangnya. Setelah menanyai mereka satu persatu, akhirnya ia menemukan dayang yang telah memfitnah putrinya. Raja Kalang sangat menyesal karena lebih percaya pada kata-kata dayang itu daripada kata-kata putrinya.

“Maafkan Ayah, Putriku! Ayah telah membuatmu menderita, karena mengusirmu dari istana,” ucap Raja Kalang.

Setelah itu, Raja Kalang pun menghukum dayang itu dengan memasukkannya ke dalam penjara. Kemudian ia menikahkan Dohong dengan putrinya dan menobatkannya menjadi pewaris tahta Kerajaan Kalang. Dohong dan Putri Intan pun hidup berbahagia.

* * *

Demikian cerita Dohong dan Tingang dari daerah Kalimantan Tengah. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu buah dari sifat suka menolong dan ganjaran yang diterima dari sifat suka memfitnah.

Pertama, buah dari sifat suka menolong. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Dohong yang telah membantu menghilangkan pengaruh sihir yang mengenai Putri Intan dengan cara mengantarnya kembali ke istana. Akhirnya, ia pun dinikahkan dengan Putri Intan dan dinobatkan menjadi Raja Kalang. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

wahai ananda dengarlah manat,
tulus dan ikhlas jadikan azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh rahmat

Kedua, ganjaran yang diterima dari sifat suka memfitnah. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku seorang dayang istana yang telah memfitnah Putri Intan. Akibatnya, ia pun dihukum setelah perbuatannya diketahui oleh Raja Kalang. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau suka fitnah memfitnah,
diri hina, marwah pun punah

kalau suka memfitnah orang,
alamat hidup menjadi arang

(Samsuni/sas/136/04-09)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Nani Setiawati. 2003. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah 2. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kalimantan Tengah,” http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah, diakses pada tanggal 13 April 2009.
Tenas Effendy, 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
------, 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru. BAPPEDA Tingkat I Riau.

Asal-Usul Ikan Patin cerita dari Kalimantan Tengah - Indonesia

Ikan patin adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini banyak dijumpai di sungai-sungai di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Bentuk ikan patin cukup unik. Badannya panjang dan berwarna putih dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Selain itu, ikan patin juga mengandung protein hewani yang cukup tinggi dan rasanya pun gurih. Meski demikian, tidak semua masyarakat Kalimantan Tengah mau memakannya. Mengapa demikian? Temukan jawabannya dalam cerita Asal-Usul Ikan Patin berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Si Suami bernama Labih, sedangkan istrinya bernama Manyang. Walau hidup miskin, mereka senantiasa hidup rukun, damai dan bahagia. Keduanya saling menyayangi. Ke mana saja pergi, mereka selalu berdua dan saling membantu dalam setiap pekerjaan. Ketika Labih ke hutan mencari kayu atau mencari ikan di sungai, istrinya selalu menyertainya. Sudah hampir sepuluh tahun mereka menjalani hidup berdua tanpa kehadiran seorang anak. Mereka setiap hari berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang untuk mengisi hari-hari mereka. Namun, sebelum mendapatkan anak, Manyang meninggal dunia karena sakit. Maka tinggallah Labih seorang diri. Hidupnya pun semakin terasa sepi.

Labih adalah seorang suami yang sabar. Ia sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Meski demikian, ia tetap tekun dan rajin bekerja. Sejak ditinggal mati istrinya, ia tetap menjalani hidupnya seperti biasanya. Setiap pulang dari hutan mencari kayu bakar, ia selalu meluangkan waktunya mencari ikan di sungai untuk dijadikan lauk. Begitulah kegiatan Labih setiap hari hingga ia menjadi seorang kakek.

Pada suatu hari, Labih pergi memancing ikan di Sungai. Setelah memasang kailnya, ia duduk sambil menunggu ikan memakan umpannya. Hari itu, ia sangat berharap bisa mendapatkan ikan, karena persediaan lauk untuk makan malam sudah habis. Dengan penuh harap, ia bersiul-siul sambil memegang gagang kailnya. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba gagang kailnya bergetar. Ia pun segera menyentakkan dan menarik kailnya ke tepi. Alangkah kecewanya kakek itu saat melihat benda yang menggantung di ujung kailnya.

“Wah! Aku kira ikan besar, ternyata hanya ranting kayu,” gumam Labih seraya melepas ranting kayu itu dari mata kailnya.

Setelah itu, Labih kembali memasang kailnya dengan umpan yang lebih besar dengan harapan bisa mendapatkan ikan yang besar pula. Sudah berjam-jam ia memancing, namun belum seekor ikan pun yang memakan umpannya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menunggu pancingnya. Ia menyadari bahwa pekerjaan memancing membutuhkan kesabaran.

“Ah, aku tidak boleh putus asa. Aku harus menunggu sampai mendapatkan ikan,” gumam Labih seraya melemparkan kailnya ke tengah sungai.

Ternyata benar, kesabaran Labih membuahkan hasil. Tidak berapa lama setelah ia melemparkan kailnya, tiba-tiba seekor ikan besar melahap umpannya. Ikan itu menarik kailnya ke sana kemari hendak melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga, ia pun segera menarik dan mengangkat kailnya ke tepi sungai. Betapa gembiranya hati Labih saat melihat seekor ikan terkail di ujung kailnya. Ia sangat takjub, karena selama bertahun-tahun memancing di sungai itu baru kali ini ia memperoleh ikan sebesar itu. Setelah ia amati secara seksama, ternyata ikan itu adalah ikan patin.

“Waaah, besar sekali ikan patin ini! Dagingnya pasti gurih dan lezat,” ucapnya dengan takjub.

Setelah itu, Labih pun memutuskan untuk berhenti memancing, karena merasa ikan itu sudah cukup untuk dimakan selama beberapa hari. Begitulah setiap kali Labih memancing, ia tidak pernah mengambil ikan di sungai itu lebih dari cukup. Sebab, ia menyadari bahwa besok atau lusa ia akan kembali lagi memancing di sungai itu. Akhirnya, dengan perasaan gembira, Labih membawa pulang ikan patin itu ke rumahnya lalu meletakkannya di dapur. Kemudian ia segera mencari pisau hendak membelah ikan itu. Namun, pisau yang biasa ia gunakan membelah ikan ternyata sudah tumpul. Ia pun segera mengasah pisau itu di atas batu yang berada di samping rumahnya.

Alangkah terkejutnya Labih setelah kembali ke dapurnya. Ia mendapati seorang bayi perempuan mungil dan cantik. Wajah bayi itu tampak kemerah-merahan. Bulu matanya lentik dan rambutnya sangat hitam dan ikal. Melihat bayi itu, Labih menjadi bingung dan gugup ingin menyetuhnya, karena selama hidupnya belum pernah mengurus bayi. Ia berusaha untuk menepis perasaan gugup itu dan meyakinkan dirinya bahwa bayi itu adalah titipan Tuhan yang diamanatkan kepadanya untuk dirawat yang harus ia syukuri. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk merawat bayi itu dan memberinya nama Leniri.

Ketika Labih hendak mengangkat dan menimang-menimangnya untuk dimandikan, Leniri tersenyum. Labih pun membalasnya dengan senyuman kasih sayang. Namun, ketika Labih memandikannya, Leniri tiba-tiba menangis dengan keras.

“Oaaa... oaaa... oaaa...!”

Labih pun segera menghiburnya sambil mengusap-usap keningnya.

“Cup, cup, cup! Leniri anakku, diamlah!”

Leniri pun terdiam dan kembali tersenyum. Usai memandikannya, Labih menghangatkan tubuh Leniri dengan sehelai kain, lalu membuatkannya bubur dan menyuapinya sesuap demi sesuap. Setelah Leniri kenyang, kakek itu membuatkannya ayunan di tengah-tengah rumah. Perlahan-lahan, ia mengayun Leniri sambil bersenandung.

“Leniri sayang, anakku seorang... Cepatlah besar menjadi gadis dambaan...”

Tak berapa lama Leniri pun tertidur pulas dalam ayunan mendengar senandung Labih. Sejak itu, Labih merawat dan membesarkan Leniri dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang melimpah. Saat Leniri beranjak remaja, ia mengajarinya berbagai ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Tak lupa pula ia menanamkan budi pekerti kepada putri kesangannya itu. Bahkan, seringkali ia mengajaknya mencari kayu bakar di hutan dan memancing ikan di sungai untuk mengenalkan alam secara lebih dekat kepadanya.

Waktu terus berjalan. Leniri tumbuh menjadi gadis cantik dan berbudi, penurut, dan rajin membantu ayahnya. Ia juga pandai bergaul dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya. Ia pun menjadi dambaan semua pemuda di kampung itu.

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan yang bernama Simbun hendak melamar Leniri.

“Permisi! Bolehkah saya masuk?” seru Simbun dari depan rumah.

“Silahkan, Anak Muda!” jawab Labih yang sedang duduk bersantai bersama Leniri.

Setelah anak muda itu duduk, Leniri pun segera masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman. Sementara itu, Labih segera mempersilahkan pemuda yang belum dikenalnya itu untuk duduk.

“Anak Muda, Engkau ini siapa?” tanya Labih.

“Maaf, apabila kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan. Nama saya Simbun. Saya berasal dari kampung sebelah,” jawab Simbun.

“Ada yang bisa kubantu, Simbun?” Labih kembali bertanya.

“Sebenarnya, maksud kedatang saya kemari ingin melamar putri Tuan yang bernama Leniri itu. Jika diperkenankan, saya berjanji akan membahagiakannnya, Tuan,” ungkap Simbun.

Mengetahui maksud kedatangan Simbun, Labih terdiam sejenak. Ia ragu untuk memberikan jawaban, karena putrinya adalah keturunan ikan patin. Ia tidak ingin asal-usul putrinya yang selama ini dirahasiakannya diketahui oleh orang banyak. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya Labih memberi jawaban.

“Baiklah, Simbun! Aku bersedia menikahkanmu dengan Leniri, tapi kamu harus memenuhi satu syarat,” kata kakek itu.

“Apakah syarat itu, Tuan?” tanya Simbun penasaran.

“Begini, Simbun! Sebenarnya, Leniri itu adalah keturunan ikan patin. Kakek menemukannya saat Kakek sedang memancing di Sungai dua puluh tahun yang lalu. Jika kamu berjanji untuk tidak menyakiti hati Leniri dengan mengungkap asal-usulnya, maka kamu boleh menikahinya,” jawab Labih.

“Baiklah, Kek! Saya berjanji tidak akan menyakiti hati Leniri. Saya akan menyayanginya sepenuh hati,” ucap Simbun.

Akhirnya, Labih pun menerima lamaran Simbun. Tak berapa lama kemudian, Leniri pun keluar dari dapur sambil membawa minum untuk ayah dan tamunya. Usai menyuguhkan minuman, Leniri duduk di samping ayahnya sambil tertunduk malu-malu.

“Leniri, Anakku! Kenalkan anak muda ini, namanya Simbun. Kedatangannya kemari hendak melamarmu,” kata Labih.

”Iya, Ayah! Niri sudah mendengarkan semua pembicaraan ayah dengan Simbun. Niri yakin, semua keputusan Ayah adalah demi kebahagiaan Niri juga,” jawab Leniri.

Labih pun mengerti maksud jawaban dari putrinya bahwa ia pun menerima lamaran itu dan bersedia mengarungi kehidupan rumah tangga bersama Simbun. Akhirnya, Simbun dan Leniri pun menikah. Mereka hidup rukun dan berbahagia. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Ari.

Suatu hari, ketika Simbun akan berangkat bekerja, Leniri memintanya untuk menunggui Ari yang sedang tertidur di ayunan. Leniri akan pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Hari itu, cucian Leniri cukup banyak, sehingga memakan waktu lama untuk mencuci dan menjemurnya. Hari menjelang siang, Leniri belum juga pulang dari sungai. Simbun pun mulai kesal menunggu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul istrinya. Namun, ketika ia hendak berangkat, tiba-tiba anaknya terbangun dan menangis keras. Ia pun bertambah kesal dan marah. Tanpa disadarinya, tiba-tiba ia berucap:

“Dasar! Ibumu memang keturunan ikan! Jika bertemu dengan air, pasti ia tidak mau berhenti!”

Tanpa sepengetahuannya, Leniri telah kembali dari sungai dan mendengar ucapannya itu. Leniri pun tidak sanggup menahan air matanya, karena sedih. Ia tidak pernah menyangka kalau suaminya akan melanggar janji yang telah diucapkan ketika akan menikahinya.

“Tidak ada lagi gunanya aku tinggal di sini. Suamiku sudah tidak sayang lagi kepadaku,” gumam Leniri.

Usai bergumam, Leniri masuk ke dalam rumah dan mendekati putranya yang sedang menangis. Setelah menyusuinya, ia menghampiri suaminya.

“Bang! Jagalah anak kita baik-baik. Adik harus kembali ke tempat asal Adik di sungai. Abang telah melanggar janji Abang sendiri,” kata Leniri.

Simbun tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa bersalah dan sangat menyesal, karena telah menyakiti hati istrinya. Ketika ia hendak meminta maaf, Leniri sudah keburu pergi. Ia berusaha mengejarnya hingga ke tepi sungai, namun Leniri telah menjadi seekor ikan patin.

“Istriku! Kembalilah...!” teriak Simbun dari tepi sungai.

Namun teriakannya sia-sia. Leniri sudah berenang hingga ke tengah sungai dan menghilang. Sejak itu, Simbun harus merawat dan membesarkan anaknya seorang diri.

* * *

Demikian cerita Asal-Usul Ikan Patin dari daerah Kalimantan Tengah. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang hingga kini masih dipercayai oleh sebagian masyarakat setempat. Cerita di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu: keutamaan sifat sabar dan akibat yang ditimbulkan oleh sifat mengikari janji.

Pertama, keutamaan sifat sabar. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat sabar adalah hal yang penting dan diutamakan. Orang yang selalu bersabar dalam menghadapi berbagai masalah, maka kebaikan akan selalu bersamanya. Tuhan akan memberinya nikmat yang lebih baik dan lebih luas. Hal ini digambarkan oleh sifat dan perilaku Labih yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala permasalahan. Berkat kesabarannya tersebut, Tuhan pun memberinya seorang anak perempuan yang cantik bernama Leniri.

Kedua, akibat buruk dari sifat ingkar janji. Sifat ini sangat dipantangkan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Orang yang ingkar janji, tidak hanya menyakiti dan mengecewakan hati orang lain, tetapi juga menyikiti hati sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam mengucapkan janji agar terhindar dari hal-hal yang dapat menyakiti hati sendiri dan hati orang lain. Hal ini terlihat dalam cerita di atas ketika Simbun mengingkari janjinya untuk tidak menyakiti hati Leniri. Akibatnya, Leniri pun pergi meninggalkannya, karena sakit hati.

Selain itu, sifat ini juga dipantangkan karena termasuk salah satu ciri orang munafik. Salah satu petuah amanah tentang sifat munafik ini disebutkan dalam ungkapan Melayu seperti berikut:
apa tanda orang munafik,
lidah bercabang, akal berbalik

(Samsuni/sas/148/06-09)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Nani Setiwati. 2003. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah 2. Jakarta: Grasindo.
Anonim. ”Budidaya Ikan Patin” Patinhttp://www.scribd.com/doc/6222857/Budidaya-Ikan-Patin, diakses tanggal 15 Juni 2009.
Effendy, Tennas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Riau: Bappeda Tingkat I Riau.

Asal Mula Sumber Garam Sepang Kalimantan Tengah - Indonesia

Di bumi ini, secara umum kita mengenal dua jenis air yaitu air tawar dan air asin. Air tawar adalah air yang tidak mengandung banyak garam di dalamnya, sehingga air ini bisa diminum oleh manusia. Ketika menyebutkan air tawar, orang biasanya merujuk ke air yang banyak terdapat di daerah daratan seperti danau, sungai, salju dan es. Sementara, air asin adalah air yang banyak mengandung garam. Air asin sering diartikan sebagai air yang berasal dari laut atau samudera, atau lebih dikenal dengan sebutan air laut. Namun, air asin tidak selamanya berada di laut atau samudera. Adakalnya air asin juga berada di danau seperti Danau Kaspia (di Rusia), Danau Laut Mati (di daerah perbatasan Israel, Palestina dan Yordania), Danau Laut Aral (di utara Uzbekistan), dan Great Salt (di Utah, Amerika Serikat). Menurut ahli, air danau tersebut asin karena dua hal yaitu di danau tersebut terjadi penguapan yang sangat tinggi; dan air yang masuk ke danau biasanya tidak lagi mengalir ke tempat lain.

Di daerah Kalimantan Tengah, juga terdapat sejenis air asin yang tidak berada di laut dan tidak pula di danau, melainkan berada di sumber air Sepang. Menurut masyarakat setempat, keberadaan sumber air asin itu tidak berkaitan dengan faktor-faktor alamiah seperti beberapa danau yang disebutkan di atas, akan tetapi dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Sepang, Kabupaten Gunung Emas, Propinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita rakyat itu mengisahkan tentang terjadinya perubahan sumber air tawar menjadi sumber air asin di Sepang. Dalam cerita rakyat itu, dikisahkan tentang seorang gadis cantik jelita yang bernama Tumbai, yang telah menolak banyak pinangan yang datang kepadanya. Ia menolak pinangan tersebut, karena belum ada peminang yang mampu memenuhi syarat yang ia ajukan. Suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dari daerah hilir Sungai Barito untuk meminang gadis cantik itu. Kedatangan pemuda itu disambut baik oleh Tumbai dan ibunya. Kemudian, pemuda itu mengutarakan maksud kedatangannya, yakni hendak meminang Tumbai. Tumbai pun mengajukan syarat yang sama seperti pemuda-pemuda lainnya. Apa syarat-syarat yang diberikan Tumbai kepada setiap pemuda yang meminangnya? Mampukah pemuda tampan dari hilir Sungai Barito itu memenuhi syarat-syarat yang diberikan Tumbai itu? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Asal-Mula Sumber Garam Sepang berikut ini.

* * *
Alkisah pada zaman dahulu kala, di Desa Sepang (sekarang Kecamatan Sepang), Kalimantan Tengah, hiduplah seorang janda yang bernama Emas. Ia hidup bersama dengan putrinya yang bernama Tumbai. Tumbai adalah gadis yang cantik nan rupawan. Ia juga baik hati dan sangat ramah kepada setiap orang. Setiap pemuda yang melihatnya berkeinginan untuk menjadi pendamping hidupnya. Oleh karena itu, banyak pemuda yang datang untuk meminangnya. Namun, Tumbai selalu menolak setiap pinangan yang datang kepadanya. Ibunya sangat gelisah melihat sikap Tumbai. Meskipun ibunya sudah berusaha membujuk Tumbai agar menerima salah satu pinangan, Tumbai tetap saja menolak.

Tumbai sangat mengerti kerisauan ibunya. Akan tetapi, apa yang pernah ia ucapkan tidak mungkin ditariknya kembali. Tumbai sudah bertekad keras mengajukan syarat kepada setiap pemuda yang meminangnya. Syarat itu sangat berat dan terasa mustahil untuk diwujudkan, yaitu mengubah sumber air tawar Sepang menjadi asin seperti air laut. Ibunya tidak habis pikir, bagaimana mungkin hal itu diwujudkan? Oleh karena itu, ia meminta kepada Tumbai agar syarat itu dihilangkan. “Anakku, sebaiknya kamu pikirkan lagi syarat-syaratmu itu,” kata ibunya. “Mana ada yang bisa memenuhi permintaanmu itu?” tambah ibunya mendesak. “Tidak, Ibu. Saya sudah memikirkannya siang dan malam. Begitulah petunjuk yang saya peroleh melalui mimpi. Pasti ada yang dapat memenuhi permintaan saya. Siapapun pemuda itu, dialah yang akan menjadi suami saya,” tegas Tumbai kepada ibunya.

Melihat keteguhan hati anaknya, ibu Tumbai tidak pernah menyinggung hal itu lagi. Akan tetapi hatinya tetap menyimpan kecemasan yang luar biasa. Ia khawatir anaknya tidak memperoleh jodoh, karena tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi persyaratannya. Meskipun demikian, ibunya tidak pernah putus asa. Setiap malam ia selalu berdoa kepada Tuhan agar keinginan anaknya itu segera terkabul. “Ya Tuhan! Kabulkanlah keinginan putriku, semoga ada pemuda yang mampu memenuhi persyaratannya!” doa ibu Tumbai.

Rupanya doa ibu Tumbai dikabulkan oleh Tuhan. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dari daerah hilir Sungai Barito menemui Tumbai dan ibunya. Kedatangannya disambut dengan baik oleh Tumbai dan ibunya. Pemuda tampan itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya yaitu untuk meminang Tumbai. “Maaf, Ibu. Saya datang ke sini bermaksud untuk meminang putri ibu,” kata pemuda itu. “Wahai Tuan yang budiman, anakku tidak meminta maskawin yang mahal, tetapi ia hanya mengajukan syarat yang harus dipenuhi sebagai maskawinnya. Apakah Tuan sudah pernah mendengarnya?” tanya ibu Tumbai. “Sudah, Ibu. Bukankah putri Ibu menginginkan sumber air Sepang yang tawar itu menjadi air asin seperti air laut?” tanya pemuda itu dengan ramah. “Betul Tuan! Memang itulah yang diinginkan oleh putri saya. Apakah Tuan bersedia memenuhi syarat itu?” tanya ibu Tumbai. Pertanyaan itu membuat pemuda itu merasa tertantang. Ia pun segera menyanggupi persyaratan Tumbai. “Baiklah! Saya akan mencobanya, Ibu. Mohon doa restu Ibu agar saya dapat memenuhi permintaan putri Ibu,” kata pemuda tampan itu dengan rendah hati.

Ibu Tumbai pun mengizinkan pemuda yang terlihat baik itu untuk mencoba memenuhi persyaratan yang diajukan anaknya. “Semoga dia dapat memenuhi permintaan anakku,” kata ibu Tumbai dalam hati saat mengantar pemuda tampan itu keluar dari rumahnya. Orang-orang yang ada di kampung itu menganggapnya sebagai orang gila. Menurut mereka, mustahil ia mampu mengubah sumber air tawar di sungai menjadi sumber air asin seperti air laut. Pemuda tampan itu tidak peduli terhadap omongan orang-orang tersebut. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia bertekad untuk memenuhi persyaratan gadis cantik itu.

Pemuda tampan itu pun berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Ia duduk bersila di atas lempengan batu di sekitar sumber air tawar Sepang itu. Setelah ia berhari-hari berdoa, atas kekuasaan Tuhan, sumber air tawar di Sepang tiba-tiba berubah menjadi sumber air asin, seperti air laut. Semua orang yang tadinya meragukan kemampuan pemuda itu datang untuk membuktikannya. Setelah mereka mencicipi air tawar di Sepang itu, ternyata memang rasanya telah berubah menjadi asin. Kini, mereka mengakui kehebatan pemuda tampan itu yang mampu mengubah sumber air tawar di Sepang menjadi sumber air asin, seperti air laut.

Dengan demikian, terpenuhilah syarat yang telah diajukan Tumbai. Pinangan pemuda tampan itu pun diterima. Sesuai janji Tumbai, pemuda itu dibebaskan dari pembayaran maskawin. Ibu Tumbai sangat senang sekali. Kerisauannya terhadap anaknya tidak mendapat jodoh, telah hilang. Ia sangat bangga terhadap calon menantunya yang tampan itu. Kemudian, ibu Tumbai pun mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menggelar pesta pernikahan anaknya. Tidak ketinggalan pula, para tetangga Tumbai ikut sibuk membantunya.

Akhirnya, Tumbai dan suaminya hidup bahagia dan sejahtera. Mereka hidup dengan mengusahakan sumber air asin menjadi garam. Mereka menjadi kaya-raya. Penduduk di sekitarnya juga melakukan usaha yang sama, sehingga mereka pun turut menjadi kaya-raya. Seluruh penduduk Sepang menjadi makmur dan berkecukupan.

Hingga kini, masyarakat Kahayan Hulu menganggap cerita di atas benar-benar pernah terjadi, karena air di Sungai Kahayan itu sebagian memang ada yang terasa asin.

* * *

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan. Salah satu nilai moral yang terkandung di dalamnya yaitu sifat baik hati. Sifat ini tercermin pada sifat Tumbai yang yang ramah terhadap pemuda yang datang meminangnya. Sifat baik hati ini memang sudah menjadi fitrah manusia yang dibawa sejak lahir. Yang termasuk dalam sifat baik hati di antaranya adalah sopan santun, pemaaf, pemurah, ramah, kasih-sayang, simpati dan tenggang rasa. Adapun kekuatan sifat baik hati (the power of Kindness) adalah semua orang akan merasa senang kepada siapa pun yang memiliki sifat-sifat tersebut, seperti yang dialami oleh Tumbai dalam cerita di atas. Selain kecantikannya, ia juga disenangi oleh banyak orang, karena sifatnya yang baik hati.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang beranggapan bahwa orang yang baik hati adalah orang yang bodoh. Padahal sebenarnya, baik hati adalah etika moralitas yang paling tinggi di antara karakter manusia. Orang yang baik hati tidak serta-merta mengalami kerugian dalam hidupnya, malah sebaliknya, ia akan memperoleh imbalan rezeki. Sifat baik hati adalah salah satu sifat yang paling berharga dalam hidup manusia. Hati yang baik bagaikan emas murni, bersih dan kemilau bak sari embun. Hati yang baik pasti luas dan lapang, mampu mewadahi seluruh makhluk alam semesta, dan menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia. Orang yang baik hati seringkali membahagiakan orang lain, yang sesungguhnya juga membawa rezeki bagi dirinya sendiri. “Membantu orang lain, sama dengan membantu diri sendiri.” Perkataan ini mutlak bukan hanya berupa imbalan sebab-akibat yang sederhana, melainkan adalah fitrah manusia. Biarkanlah kebaikan menyatu bersama jiwa, ini merupakan berkah besar bagi manusia. Asalkan terdapat kebaikan di dalam jiwa, tentu keceriaan akan sering hadir dalam kehidupan; asalkan terdapat kebaikan di dalam jiwa, dendam kesumat tidak akan pernah hadir dalam kehidupan. Dengan adanya kebaikan di dalam kehidupan, barulah jiwa bisa membubung dengan tiada henti. Sifat baik hati adalah emas yang memancarkan sinar kehidupan yang paling mulia di dalam karakter manusia.

Orang tua-tua Melayu mengatakan bahwa sifat baik hati mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, menggambarkan rendah hati, ikhlas, tidak pendendam, bertenggang rasa, dan berbudi luhur. Tenas Effendy dalam bukunya Tunjuk Ajar Melayu, banyak menyebutkan ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan sifat baik hati, di antaranya:

apa tanda Melayu bertuah,
pertama pemaaf, kedua pemurah

apa tanda Melayu berakhlak,
memberi maaf pantang mengelak
hati murah budinya banyak

apa tanda Melayu terpuji,
dendam mendendam pantang sekali
tangan pemurah suka memberi

Berkaitan dengan hal ini, Tenas Effendy juga menyebutkan dalam untaian syair seperti berikut:

wahai ananda kekasih ibu,
mengaku salah janganlah malu
memaafkan orang jangan menunggu
hati pemurah menjauhkan seteru

wahai ananda intan dikarang,
ikhlaskan hati memaafkan orang
dendam kesumat hendaklah buang
hati pemurah hidupmu lapang

wahai ananda sibiran tulang,
janganlah ragu memaafkan orang
sengketa habis dendam dibuang
hati pemurah dikasihi orang


* * *

(SM/sas/20/8-07)

Sumber :
Isi cerita disadur dari Wulandari, Ari. 2006. Asal Mula Sumber Garam Sepang. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
http://id.wikipedia.org
http://elcom.umy.ac.id
http://erabaru.or.id

Asal Mula Pulau Nusa cerita dari Kalimantan Tengah - Indonesia

Pulau Nusa adalah sebuah pulau yang terletak di Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, Indonesia. Bentuk pulau itu berkelok-kelok seperti ular naga. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat, pulau ini terbentuk dari seekor naga besar yang sudah mati di dasar Sungai Kahayan. Peristiwa apakah yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bangkai naga besar itu bisa menjelma menjadi sebuah pulau? Temukan jawabannya dalam cerita Asal Mula Pulau Nusa berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang laki-laki bernama Nusa. Ia tinggal bersama istri dan adik ipar laki-lakinya di sebuah kampung yang berada di pinggir Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Pekerjaan sehari-hari Nusa dan adik iparnya adalah bercocok tanam dan menangkap ikan di Sungai Kahayan.

Pada suatu waktu, kemarau panjang melanda daerah tempat tinggal mereka. Kelaparan terjadi di mana-mana. Semua tanaman penduduk tidak dapat tumbuh dengan baik. Tanaman padi menjadi layu, buah pisang menjadi kerdil. Air Sungai Kahayan surut dan ikan-ikannya pun semakin berkurang.

Melihat kondisi itu, Nusa bersama istri dan adik iparnya memutuskan untuk pindah ke sebuah udik (dusun) dengan harapan akan mendapatkan sumber penghidupan yang lebih baik. Kalaupun tanaman singkong penduduk kampung itu tidak ada, setidaknya tetumbuhan hutan masih dapat membantu mereka untuk bertahan hidup.

Setelah mempersiapkan bekal seadanya, berangkatlah mereka menuju udik dengan menggunakan perahu. Setelah tiga hari menyusuri Sungai Rungan (anak Sungai Kahayan), sampailah mereka di persimpangan sungai. Namun, mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan, karena ada sebatang pohon besar yang tumbang dan melintang di tengah sungai. Untuk melintasi sungai itu, mereka harus memotong pohon itu. Akhirnya Nusa dan adik iparnya secara bergantian memotong pohon itu dengan menggunakan kapak.

Hingga sore, pohon itu belum juga terputus. Perut mereka pun sudah mulai keroncongan. Sementara bekal yang mereka bawa sudah habis. Akhirnya, Nusa memutuskan untuk pergi mencari makanan ke hutan di sekitar sungai itu.

“Aku akan pergi mencari makanan di tengah hutan itu. Kamu selesaikan saja pekerjaan itu,” kata Nusa kepada adik iparnya yang sedang memotong pohon itu.

“Baik, Bang!” jawab adik iparnya.

Setelah berpamitan kepada istrinya, berangkatlah Nusa ke tengah hutan. Tidak lama kemudian, Nusa sudah kembali membawa sebutir telur yang besarnya dua kali telur angsa.

“Hei, lihatlah! Aku membawa makanan enak untuk makan malam kita. Dik, tolong rebus telur ini!” pinta Nusa kepada istrinya.

“Maaf, Bang! Adik tidak mau, karena Adik tahu telur binatang apa yang Abang bawa itu,” jawab istri Nusa menolak.

“Ah, Abang tidak peduli ini telur binatang apa. Yang penting Abang bisa kenyang. Abang sudah tidak kuat lagi menahan lapar,” kata Nusa dengan nada ketus.

Akhirnya, telur itu dimasak sendiri oleh Nusa. Hampir tengah malam telur itu baru matang. Ia pun membangunkan istri dan adik iparnya yang sudah terlelap tidur. Namun keduanya tidak mau memakan telur itu. Akhirnya, telur itu dimakan sendiri oleh Nusa sampai habis. Sementara istri dan adik iparnya kembali melanjutkan tidurnya.

Keesokan harinya, alangkah terkejutnya Nusa saat terbangun dari tidurnya. Tubuhnya dipenuhi dengan bintil-bintil berwarna merah dan terasa sangat gatal. Ia pun mulai panik dan kemudian menyuruh istri dan adik iparnya untuk membantu menggaruk tubuhnya. Namun anehnya, semakin digaruk, tubuhnya semakin terasa gatal dan perih. Melihat kondisinya seperti itu, Nusa segera menyuruh adik iparnya untuk pergi mencari bantuan. Sementara istrinya terus membantu menggaruk tubuhnya.

Menjelang siang, keadaan Nusa semakin mengerikan. Bintil-bintil merah itu berubah menjadi sisik sebesar uang logam memenuhi sebagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian, tubuhnya bertambah besar dan memanjang hingga mencapai sekitar lima depa.[1] Dari kaki sampai ke ketiaknya telah berubah menjadi naga, sedangkan tangan, leher, dan kepalanya masih berwujud manusia.

“Maafkan Abang, Dik! Rupanya telur yang Abang makan tadi malam adalah telur naga. Lihat tubuh dan kaki Abang! Sebentar lagi Abang akan menjadi seekor naga. Tapi, Adik tidak usah sedih, karena ini sudah takdir Tuhan,” ujar Nusa kepada istrinya.

Istrinya hanya terdiam dan bersedih melihat nasib malang yang menimpa suaminya. Air matanya pun tidak terbendung lagi. Tidak lama kemudian, adik iparnya kembali bersama dua puluh orang warga yang siap untuk membantunya. Namun saat melihat tubuh Nusa, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka belum pernah melihat kejadian aneh seperti itu. Akhirnya, hampir sehari semalam mereka hanya duduk mengelilingi tubuh Nusa yang tergeletak tidak berdaya di atas pasir sambil memerhatikan perkembangan selanjutnya.

Keesokan harinya, Nusa benar-benar sudah berubah menjadi seekor ular naga. Tubuhnya semakin panjang dan besar. Panjangnya sudah mencapai sekitar duapuluh lima depa, dan besarnya tiga kali pohon kelapa.

Menjelang siang, Nusa meminta kepada seluruh warga agar menggulingkan tubuhnya ke sungai.

“Tolong bantu gulingkan tubuhku ke dalam sungai itu! Aku sudah tidak kuat lagi menahan terik matahari,” keluh Nusa.

Warga pun beramai-ramai mendorong tubuhnya ke dalam sungai. Namun, baru beberapa saat berada di dalam air, tiba-tiba Nusa merasa sangat lapar.

“Aduh..., aku lapar sekali. Tolong carikan aku ikan!” seru Nusa sambil menahan rasa lapar.

Warga pun segera berpencar mencari ikan di danau atau telaga yang berada di sekitar hutan. Beberapa lama kemudian, warga kembali dengan membawa ikan yang banyak. Dalam sekejap, ikan-ikan itu pun habis dilahapnya. Menjelang senja, Nusa berpesan kepada istrinya.

“Dik! Nanti malam akan turun hujan lebat diiringi guntur dan petir. Air sungai ini akan meluap. Sampaikan hal ini kepada warga, agar segera meninggalkan tempat ini. Saat sungai banjir, Abang akan menuju ke Sungai Kahayan dan terus ke muara. Abang akan tinggal beberapa waktu di sana, dan kemudian meneruskan perjalanan ke laut. Di sanalah Abang akan tinggal untuk selamanya,” ucap Nusa sambil meneteskan air mata.

Istrinya pun tidak kuat menahan tangis. Ia benar-benar akan kehilangan suaminya.

“Bang, jangan tinggalkan Adik! Adik tidak mau kehilangan Abang,” istri Nusa mengiba sambil menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah, Dik! Ini sudah takdir Tuhan. Setelah Abang pergi, pulanglah bersama warga itu!” ujar Nusa kepada istrinya.

Ketika malam sudah larut, apa yang diramalkan Nusa benar-benar terjadi. Suara guntur bergemuruh diiringi oleh petir yang menyambar-nyambar. Kilat memancar sambung-menyambung. Tidak lama kemudian, hujan pun turun dengan lebat. Istri Nusa dan semua warga segera menjauh dari sungai. Mereka dirundung perasaan cemas dan diselimuti perasaan takut. Beberapa saat kemudian, air Sungai Rungan pun meluap. Tubuh Nusa terbawa arus banjir menuju Sungai Kahayan. Mereka yang menyaksikan peristiwa itu hanya diam terpaku. Mereka sudah tidak dapat lagi menolong Nusa. Setelah air Sungai Rungan surut, para warga kembali ke perkampungan mereka. Istri dan adik ipar Nusa pun mengikuti rombongan itu.

Sementara itu, Nusa sudah tiba di muara Sungai Kahayan. Ia menetap sementara di sebuah teluk yang agak dalam. Ia sangat senang, karena terdapat banyak jenis ikan yang hidup di sana. Namun kehadirannya menjadi ancaman bagi kehidupan ikan-ikan tersebut. Oleh karena itu, ikan-ikan tersebut berusaha mencari cara untuk mengusirnya. Mereka pun berkumpul di suatu tempat yang tersembunyi.

“Apa yang harus kita lakukan untuk mengusir naga itu?” tanya Ikan Jelawat bingung.

“Aku punya akal. Aku akan bercerita kepada naga itu bahwa di lautan sana ada seekor naga besar yang ingin mengadu kekuatan dengannya,” kata Ikan Saluang (sejenis ikan teri).

“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Ikan Jelawat bertambah bingung.

“Tenang, saudara-saudara! Serahkan semua persoalan ini kepadaku. Aku akan meminta bantuan kalian jika aku memerlukannya. Bersiap-siap saja menunggu komando dariku,” ujar Ikan Saluang.

Akhirnya, semua ikan yang ada di situ setuju dengan keputusan Ikan Saluang. Keesokan harinya, Ikan Saluang mulai menjalankan rencananya. Ia diam termenung seorang diri di suatu tempat yang tidak jauh dari naga itu berada. Ia berpikir, naga itu tidak mungkin memangsa tubuhnya yang kecil itu, karena tentu tidak akan mengenyangkannya. Tidak lama kemudian, naga itu pun datang menghampirinya.

“Hei, Ikan Saluang! Kenapa kamu bersedih?” tanya Naga Nusa.

“Iya, Tuan Naga! Ada sesuatu yang membuat Hamba bersedih,” jawab Ikan Saluang.

“Apakah itu, Ikan Saluang? Katakanlah!” desak Naga Nusa.

“Begini, Tuan. Kemarin Hamba bertemu seekor naga besar di lautan sana,” kata Ikan Saluang.

“Apa katamu? Naga? Apakah dia lebih besar dari pada aku?” tanya Naga Nusa itu mulai gusar.

“Besarnya hampir sama seperti Tuan. Rupanya dia sudah mengetahui keberadaan Tuan di sini. Bahkan, dia menantang Tuan untuk mengadu kekuatan,” jawab Ikan Saluang.

Mendengar cerita Ikan Saluang itu, Naga Nusa pun naik pitam.

“Berani sekali naga itu menantangku. Katakan padanya bahwa aku menerima tantangannya! Besok suruh dia datang ke tempat ini, aku akan menunggunya!” seru Naga Nusa.

“Baik, Tuan Naga!” jawab Ikan Saluang lalu pergi.

Keesokan harinya, Naga Nusa pun datang menunggu di tempat itu. Sementara Ikan Saluang, bukannya pergi memanggil naga yang ada di lautan sana, melainkan bersembunyi di balik bebatuan bersama teman-temannya sambil memerhatikan gerak-gerik Naga Nusa yang sedang mondar-mandir menunggu kedatangan musuhnya. Namun, musuh yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang, karena naga yang dimaksudkan Ikan Saluang itu memang tidak ada. Akhirnya ia pun kelelahan dan tertidur di tempat itu.

Ikan Saluang pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pelan-pelan ia mendekati ekor Naga Nusa, lalu berteriak dengan keras.

“Tuanku! Musuh datang!”

Mendengar teriakan itu, Naga Nusa menjadi panik. Dengan secepat kilat, ia memutar kepalanya ke arah ekornya, sehingga air sungai itu mendesau. Ia mengira suara air yang mendesau itu adalah musuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun menyerang dan menggigitnya. Namun, tanpa disadari, ia menggigit ekornya sendiri hingga terputus.

“Aduuhhh....!” terdengar suara jeritan Naga Nusa menahan rasa sakit.

Pada saat itulah, Ikan Saluang segera memerintahkan semua teman-temannya untuk menggerogoti luka Naga Nusa. Naga Nusa pun semakin menjerit dan mengamuk. Tempat itu bergetar seolah-olah terjadi gempa bumi. Namun, kejadian itu tidak berlangsung lama. Tenaga Naga Nusa semakin lemah, karena kehabisan darah. Beberapa saat kemudian, Naga Nusa akhirnya mati.

Semua ikan yang ada di dasar Sungai Kahayan berdatangan memakan daging Naga Nusa hingga habis. Hanya kerangkanya yang tersisa. Lama kelamaan, kerangka tersebut tertimbun tanah dan ditumbuhi pepohonan. Tumpukan pepohonan itu kemudian membentuk sebuah pulau yang kini dikenal dengan nama Pulau Nusa.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Pulau Nusa dari Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung banyak pesan moral. Salah satunya adalah akibat buruk yang ditimbulkan dari sifat semberono. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Nusa yang nekad memakan sebutir telur yang tidak diketahui asal usulnya. Akibatnya, ia pun menjelma menjadi seekor naga besar, karena ternyata telur yang dimakannya adalah telur naga.

Dari cerita di atas dapat diambil sebuah pelajaran bahwa jika mendapatkan suatu makanan yang tidak diketahui asal usulnya ataupun bahaya yang dapat ditimbulkan dari makanan itu, hendaknya tidak memakannya. (Samsuni/sas/88/07-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Fansuri, H. Aspul, dkk. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kalimantan Tengah,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah, diakses tanggal 22 Juli 2008).
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI. ”Kamus KBBI” (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tanggal 22 Juli 2008).


[1] Depa adalah ukuran sepanjang kedua belah tangan, memanjang dari ujung jari tengah tangan kiri sampai ke ujung jari tengah tangan kanan (empat hasta, enam kaki).

Asal Mula Danau Malawen cerita dari Kalimantan Tengah - Indonesia

Danau Malawen adalah sebuah danau yang terletak di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, Indonesia. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat, danau yang di tepiannya terdapat beragam jenis anggrek ini dahulu merupakan sebuah aliran sungai yang di dalamnya hidup berbagai jenis ikan. Namun karena terjadi peristiwa yang mengerikan, sungai itu berubah menjadi danau. Peristiwa apakah yang menyebabkan sungai itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Danau Malawen berikut ini.

* * *

Alkisah, di tepi sebuah hutan di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia, hidup sepasang suami-istri miskin. Meskipun hidup serba pas-pasan, mereka senantiasa saling menyayangi dan mencintai. Sudah sepuluh tahun mereka berumah tangga, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Sepasang suami-istri tersebut sangat merindukan kehadiran seorang buah hati belaian jiwa untuk melengkapi keluarga mereka. Untuk itu, hampir setiap malam mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar impian tersebut dapat menjadi kenyataan.

Pada suatu malam, usai memanjatkan doa, sepasang suami istri pergi beristirahat. Malam itu, sang Istri bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua.

“Jika kalian menginginkan seorang keturunan, kalian harus rela pergi ke hutan untuk bertapa,” ujar lelaki tua dalam mimpinya itu.

Baru saja sang Istri akan menanyakan sesuatu, lelaki tua itu keburu hilang dari dalam mimpinya. Keesokan harinya, sang Istri pun menceritakan perihal mimpinya tersebut kepada suaminya.

“Bang! Benarkah yang dikatakan kakek itu?” tanya sang Istri.

“Entahlah, Dik! Tapi, barangkali ini merupakan petunjuk untuk kita mendapatkan keturunan,” jawab sang Suami.

‘Lalu, apa yang harus kita lakukan, Bang! Apakah kita harus melaksanakan petunjuk kakek itu?” sang Istri kembali bertanya.

“Iya, Istriku! Kita harus mencoba segala macam usaha. Siapa tahu apa yang dikatakan kakek itu benar,” jawab suaminya.

Keesokan harinya, usai menyiapkan bekal seadanya, sepasang suami-istri itu pun pergi ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh. Setelah setengah hari berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat dan sunyi. Mereka pun membangun sebuah gubuk kecil untuk tempat bertapa.

Ketika hari mulai gelap, sepasang suami-istri itu pun memulai pertapaan mereka. Keduanya duduk bersila sambil memejamkan mata dan memusatkan konsentrasi kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sudah berminggu-minggu mereka bertapa, namun belum juga memperoleh tanda-tanda maupun petunjuk. Meskipun harus menahan rasa lapar, haus dan kantuk, mereka tetap melanjutkan pertapaan hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai pada hari kesembilan puluh sembilan pun mereka belum mendapatkan petunjuk. Rupanya, Tuhan Yang Mahakuasa sedang menguji kesabaran mereka.

Pada hari keseratus, kedua suami-istri itu benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan rasa lapar, haus dan kantuk. Maka pada saat itulah, seorang lelaki tua menghampiri dan berdiri di belakang mereka.

“Hentikanlah pertapaan kalian! Kalian telah lulus ujian. Tunggulah saatnya, kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan!” ujar kakek itu.

Mendengar seruan itu, sepasang suami-istri itu pun segera menghentikan pertapaan mereka. Alangkah terkejutnya mereka saat membuka mata dan menoleh ke belakang. Mereka sudah tidak melihat lagi kakek yang berseru itu. Akhirnya mereka pun memutuskan pulang ke rumah dengan berharap usaha mereka akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diinginkan.

Sesampainya di rumah, suami-istri itu kembali melakukan pekerjaan sehari-hari mereka sambil menanti karunia dari Tuhan. Setelah melalui hari-hari penantian, akhirnya mereka pun mendapatkan sebuah tanda-tanda akan kehadiran si buah hati dalam keluarga mereka. Suatu sore, sang Istri merasa seluruh badannya tidak enak.

“Bang! Kenapa pinggangku terasa pegal-pegal dan perutku mual-mual?” tanya sang Istri mengeluh.

“Wah, itu pertanda baik, Istriku! Itu adalah tanda-tanda Adik hamil,” jawab sang Suami dengan wajah berseri-seri.

“Benarkah itu, Bang?” tanya sang Istri yang tidak mengerti hal itu, karena baru kali ini ia mengalami masa kehamilan.

“Benar, Istriku!” jawab sang Suami.

Sejak saat itu, sang Istri selalu ingin makan buah-buahan yang kecut dan makanan yang pedas-pedas. Melihat keadaan istrinya itu, maka semakin yakinlah sang Suami bahwa istrinya benar-benar sedang hamil.

“Oh, Tuhan terima kasih!” ucap sang Suami.

Usai mengucapkan syukur, sang Suami mendekati istrinya dan mengusap-usap perut sang Istri.

“Istriku! Tidak lama lagi kita akan memiliki anak. Jagalah baik-baik bayi yang ada di dalam perutmu ini!” ujar sang Suami.

Waktu terus berjalan. Usia kandungan sang Istri genap sembilan bulan, pada suatu malam sang Istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Kumbang Banaung. Alangkah senang dan bahagianya sepasang suami-istri itu, karena anak yang selama ini mereka idam-idamkan telah mereka dapatkan. Mereka pun merawat dan membesarkan Kumbang Banaung dengan penuh kasih sayang.

Ketika Kumbang Banaung berusia remaja dan sudah mengenal baik dan buruk, mereka memberinya petuah atau nasehat agar ia menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan selalu berlaku santun serta bertutur sopan ke mana pun pergi.

wahai anak dengarlah petuah,

kini dirimu lah besar panjang

umpama burung lah dapat terbang

umpama kayu sudah berbatang

umpama ulat lah mengenal daun

umpama serai sudah berumpun



banyak amat belum kau dapat

banyak penganyar belum kau dengar

banyak petunjuk belum kau sauk

banyak kaji belum terisi



maka sebelum engkau melangkah

terimalah petuah dengan amanah

supaya tidak tersalah langkah

supaya tidak terlanjur lidah



pakai olehmu adat merantau

di mana bumi dipijak,

di sana langit dijunjung

di mana air disauk

di sana ranting dipatah

di mana badan berlabuh,

di sana adat dipatuh

apalah adat orang menumpang:

berkata jangan sebarang-barang

berbuat jangan main belakang

adat istiadat lembaga dituang

dalam bergaul tenggang menenggang

Selain itu, sang Ayah juga mengajari Kumbang Banaung cara berburu. Setiap hari ia mengajaknya ke hutan untuk berburu binatang dengan menggunakan sumpit.

Seiring berjalannya waktu, Kumbang Banaung pun tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan rupawan. Namun, harapan kedua orangtuanya agar ia menjadi anak yang berbakti tidak terwujud. Perilaku Kumbang Banaung semakin hari semakin buruk. Semua petuah dan nasehat sang Ayah tidak pernah ia hiraukan.

Pada suatu hari, sang Ayah sedang sakit keras. Kumbang Banaung memaksa ayahnya untuk menemaninya pergi berburu ke hutan.

“Maafkan Ayah, Anakku! Ayah tidak bisa menemanimu. Bukankah kamu tahu sendiri kalau Ayah sekarang sedang sakit,” kata sang Ayah dengan suara pelan.

“Benar, Anakku! Kalau pergi berburu, berangkatlah sendiri. Biar Ibu menyiapkan segala keperluanmu,” sahut sang Ibu.

“O iya, Anakku! Ini ada senjata pusaka untukmu. Namanya piring malawan. Piring pusaka ini dapat digunakan untuk keperluan apa saja,” kata sang Ayah sambil memberikan sebuah piring kecil kepada Kumbang Banaung.

Kumbang Banaung pun mengambil piring pusaka itu dan menyelipkan di pinggangnya. Setelah menyiapkan segala keperluannya, berangkatlah ia ke hutan seorang diri. Sesampainya di hutan, ia pun memulai perburuannya. Namun, hingga hari menjelang siang, ia belum juga mendapatkan seekor pun binatang buruan. Ia tidak ingin pulang ke rumah tanpa membawa hasil. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perburuannya dengan menyusuri hutan tersebut. Tanpa disadarinya, ia telah berjalan jauh masuk ke dalam hutan dan tersesat di dalamnya.

Ketika mencari jalan keluar dari hutan, ternyata Kumbang Banaung sampai di sebuah desa bernama Sanggu. Desa itu tampak sangat ramai dan menarik perhatian Kumbang Banaung. Rupanya, di desa tersebut sedang diadakan upacara adat yang diselenggarakan oleh Kepala Desa untuk mengantarkan masa pingitan anak gadisnya yang bernama Intan menuju masa dewasa. Upacara adat itu diramaikan oleh pagelaran tari. Saat ia sedang asyik menyaksikan para gadis menari, tiba-tiba matanya tertuju kepada wajah seorang gadis yang duduk di atas kursi di atas panggung. Gadis itu tidak lain adalah Intan, putri Kepala Desa Sanggu. Mata Kumbang Banaung tidak berkedip sedikit pun melihat kecantikan wajah si Intan.

“Wow, cantik sekali gadis itu,” kata Kumbang Banaung dalam hati penuh takjub.

Tidak terasa, hari sudah hampir sore, Kumbang Banaung pulang. Ia berusaha mengingat-ingat jalan yang telah dilaluinya menuju ke rumahnya. Setelah berjalan menyusuri jalan di hutan itu, sampailah ia di rumah.

“Kamu dari mana, Anakku? Kenapa baru pulang?” tanya Ibunya yang cemas menunggu kedatangannya.

Kumbang Banaung pun bercerita bahwa ia sedang tersesat di tengah hutan. Namun, ia tidak menceritakan kepada orangtuanya perihal kedatangannya ke Desa Sanggu dan bertemu dengan gadis-gadis cantik. Pada malam harinya, Kumbang Banaung tidak bisa memejamkan matanya, karena teringat terus pada wajah Intan.

Keesokan harinya, Kumbang Banaung berpamitan kepada kedua orangtuanya ingin berburu ke hutan. Namun, secara diam-diam, ia kembali lagi ke Desa Sanggu ingin menemui si Intan. Setelah berkenalan dan mengetahui bahwa Intan adalah gadis cantik yang ramah dan sopan, maka ia pun jatuh hati kepadanya. Begitu pula si Intan, ia pun tertarik dan suka kepada Kumbang Banaung. Namun, keduanya masih menyimpan perasaan itu di dalam hati masing-masing.

Sejak saat itu, Kumbang Banaung sering pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Namun tanpa disadari, gerak-geriknya diawasi dan menjadi pembicaraan penduduk setempat. Menurut mereka, perilaku Kumbang Banaung dan Intan telah melanggar adat di desa itu. Sebagai anak Kepala Desa, Intan seharusnya memberi contoh yang baik kepada gadis-gadis sebayanya. Oleh karena tidak ingin putrinya menjadi bahan pembicaraan masyarakat, ayah Intan pun menjodohkan Intan dengan seorang juragan rotan di desa itu.

Pada suatu hari, Kumbang Banaung mengungkapkan perasaannya kepada Intan.

“Intan, maukah Engkau menjadi kekasih, Abang?” tanya Kumbang Banaung.

Mendengar pertanyaan itu, Intan terdiam. Hatinya sedang diselimuti oleh perasaan bimbang. Di satu sisi, ia suka kepada Kumbang Banaung, tapi di sisi lain ia telah dijodohkan oleh ayahnya dengan juragan rotan. Ia sebenarnya tidak menerima perjodohan itu, karena juragan rotan itu telah memiliki tiga orang anak. Namun, karena watak ayahnya sangat keras, maka ia pun terpaksa menerimanya.

“Ma... maafkan Aku, Bang!” jawab Intan gugup.

“Ada apa Intan? Katakanlah!” desak Kumbang Banaung.

Setelah beberapa kali didesak oleh Kumbang Banaung, akhirnya Intan pun menceritakan keadaan yang sebenarnya. Intan juga mengakui bahwa ia juga suka kepadanya, namun takut dimarahi oleh ayahnya. Mengetahui keadaan Intan tersebut, Kumbang Banaung pun segera pulang ke rumahnya untuk menyampaikan niatnya kepada kedua orangtuanya agar segera melamar Intan.

“Kita ini orang miskin, Anakku! Tidak pantas melamar anak orang kaya,” ujar sang Ayah.

“Benar kata ayahmu, Nak! Lagi pula, tidak mungkin orangtua Intan akan menerima lamaran kita,” sahut ibunya.

“Tidak, Ibu! Aku dan Intan saling mencintai. Dia harus menjadi istriku,” tukas Kumbang Banaung.

“Jangan, Anakku! Urungkanlah niatmu itu! Nanti kamu dapat malapetaka. Mulai sekarang kamu tidak boleh menemui Intan lagi!” perintah ayahnya.

Kumbang Banaung tetap tidak menghiraukan nasehat kedua orangtuanya. Ia tetap bersikeras ingin menikahi Intan bagaimana pun caranya. Pada suatu malam, suasana terang bulan, diam-diam ia pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Ia berniat mengajaknya kawin lari.

“Intan, bagaimana kalau kita kawin lari saja,” bujuk Kumbang Banaung.

“Iya Bang, aku setuju! Aku tidak mau menikah dengan orang yang sudah mempunyai anak,” kata Intan.

Setelah melihat keadaan di sekelilingnya aman, keduanya berjalan mengendap-endap ingin meninggalkan desa itu. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba beberapa orang warga yang sedang meronda melihat mereka.

“Hei, lihatlah! Bukankah itu Kumbang dan Intan,” kata salah seorang warga.

“Iya, Benar! Sepertinya si Kumbang akan membawa lari si Intan,” imbuh seorang warga lainnya.

Menyadari niatnya diketahui oleh warga, Kumbang dan Intan pun segera berlari ke arah sungai.

“Ayo, kita kejar mereka!” seru seorang warga.

Kumbang Banaung dan Intan pun semakin mempercepat langkahnya untuk menyelamatkan diri. Namun, ketika sampai di sungai, mereka tidak dapat menyeberang.

“Bang, apa yang harus kita lakukan! Orang-orang desa pasti akan menghukum kita,” kata Intan dengan nafas terengah-engah.

Dalam keadaan panik, Kumbang Banaung tiba-tiba teringat pada piring malawen pemberian ayahnya. Ia pun segera mengambil piring pusaka itu dan melemparkannya ke tepi sungai. Secara ajaib, piring itu tiba-tiba berubah menjadi besar. Mereka pun menaiki piring itu untuk menyebrangi sungai. Mereka tertawa gembira karena merasa selamat dari kejaran warga. Namun, ketika sampai di tengah sungai, cuaca yang semula terang, tiba-tiba menjadi gelap gulita. Beberapa saat berselang, hujan deras pun turun disertai hujan deras dan angin kecang. Suara guntur bergemuruh dan kilat menyambar-nyambar. Gelombang air sungai pun menghatam piring malawen yang mereka tumpangi hingga terbalik. Beberapa saat kemudian, sungai itu pun menjelma menjadi danau. Oleh masyarakat setempat, danau itu diberi nama Danau Malawen. Sementara Kumbang dan Intan menjelma menjadi dua ekor buaya putih. Konon, sepasang buaya putih tersebut menjadi penghuni abadi Danau Malawen.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Danau Malawen dari daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita di atas tergolong legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orangtua. Sifat ini tercermin pada perilaku Kumbang Banaung dan Intan yang tidak mau mendengar dan menuruti nasehat kedua orangtua mereka. Akibatnya, Tuhan pun murka dan menghukum mereka menjadi dua ekor buaya putih. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat merupakan sifat tercela. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau sifat keras kepala,

di situlah tempat beroleh bala



kalau bapa ibu engkau sanggah,

Tuhan murka, orang pun menyunggah

(Samsuni /sas/115/12-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Nani Setiawati. 2003. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah 2. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kalimantan Tengah”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah, diakses tanggal 9 Desember 2008.
Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bapedda Tingkat I Riau.
--------. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.

Ambun dan Rimbun cerita dari Kalimantan Tengah - Indonesia

Ambun dan Rimbun adalah dua remaja laki-laki kakak-beradik. Mereka tinggal bersama ibunya di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah. Sejak ayahnya meninggal, kehidupan mereka menjadi miskin. Meski demikian, kedua kakak beradik itu tetap saling menyayangi. Kemana pun pergi, mereka selalu bersama-sama. Pada suatu hari, Ambun dan Rimbun pergi merantau ke sebuah negeri untuk mengubah nasib keluarga mereka. Dalam perantauan, Ambun berhasil menjadi menantu raja di negeri itu. Apa yang terjadi sehingga Ambun dapat menikah dengan putri raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Ambun dan Rimbun berikut ini.

* * *

Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, hiduplah seorang janda bersama dua orang anak laki-lakinya yang sudah remaja. Anak pertamanya bernama Ambun, sedangkan anak keduanya bernama Rimbun. Banyak orang di kampung itu mengira mereka saudara kembar, karena wajah dan perawakan keduanya mirip sekali. Namun sebenarnya mereka bukanlah saudara kembar, karena umur keduanya selisih satu tahun.

Ambun dan Rimbun adalah anak yang rajin dan hormat kepada orang tua. Setiap hari mereka membantu ibunya mencari kayu bakar ke hutan dan menjualnya ke pasar.

Pada suatu sore, Rimbun melihat abangnya termenung seorang diri di beranda rumah mereka.

“Bang! Apa yang sedang Abang pikirkan?” tanya Rimbun.

“Abang sedang memikirkan nasib keluarga kita. Kalau setiap hari hanya mencari kayu bakar, kehidupan kita tidak akan pernah membaik,” keluh Ambun.

“Lalu, apa rencana Abang?” tanya Rimbun.

“Abang akan pergi merantau untuk mengubah nasib keluarga kita. Banyak orang di kampung ini kehidupannya menjadi lebih baik sepulangnya dari merantau,” jelas Ambun.

“Wah, kalau begitu, Adik akan ikut Abang,” kata Rimbun.

“Jangan, Dik! Kamu di sini saja menemani ibu. Kalau Adik ikut, kasihan ibu ditinggal sendiri,” cegah Ambun.

“Tidak, Bang! Adik harus ikut Abang,” tegas Rimbun bersikukuh ingin pergi merantau bersama Abangnya.

“Baiklah, kalau begitu,” kata Rimbun mengizinkan adiknya ikut serta.

Malam harinya, kedua kakak-beradik itu menyampaikan niat mereka kepada sang Ibu. Mendengar hal itu, sang Ibu hanya terdiam. Ia bingung bagaimana menyikapi keinginan kedua putranya. Menurutnya, apa yang dikatakan kedua putranya itu memang benar, bahwa merantau dapat memperbaiki kehidupan keluarga mereka, tetapi di satu sisi, umur mereka masih sangat muda.

“Bagaimana, Bu? Apakah ibu mengizinkan kami pergi?” Ambun kembali bertanya.

“Sebenarnya Ibu merasa berat mengizinkan kalian pergi. Ibu khawatir terhadap keselamatan kalian berdua di rantau. Kalian masih terlalu muda untuk merantau,” jawab sang Ibu dengan berat hati.

“Iya, Bu! Tapi, kami berdua bisa jaga diri dan saling menjaga,” sahut Rimbun.

“Baiklah, kalau memang kalian bersikukuh akan pergi, Ibu mengizinkan. Tapi Ibu berpesan, kalian harus menghormati orang lain dan jangan berpisah. Kalaupun harus berpisah, hendaknya kalian saling mengabari,” ujar sang Ibu.

“Terima kasih, Bu!” ucap keduanya serentak dengan perasaan gembira.

Ambun dan Rimbun segera menyiapkan segala keperluan mereka, termasuk celana dan baju mereka yang terbuat dari kulit kayu. Sementara sang Ibu sibuk menyiapkan makanan untuk bekal mereka di jalan. Ia memasak empat belas buah ketupat dan empat belas butir telur ayam untuk mereka berdua. Masing-masing mendapat tujuh buah ketupat dan tujuh biji telur ayam. Setelah itu, ia mengambil beberapa butir beras dan mencelupkannya ke dalam air, lalu mengoleskannya di ubun-ubun mereka seraya berdoa:

“Semoga Ranying Hatalla Langit (semoga Tuhan melidungi kalian berdua).”

Saat tengah malam, perempuan paruh baya itu membuka sebuah peti besi kecil berisi dua bilah dohong (keris pusaka) yang bentuk dan ukurannya sama. Yang satu berlilitkan kain merah dan yang satunya lagi berlilitkan kain kuning. Yang berlilitkan kain merah diserahkan kepada Ambun, sedangkan yang berlilitkan kain kuning diberikan kepada Rimbun.

“Senjata pusaka ini adalah peninggalan almarhum ayah kalian. Tapi, ingat! Senjata ini hanya boleh kalian gunakan jika dalam keadaan mendesak,” pesan sang Ibu seraya mencium kening kedua putra tercintanya.

“Baik, Bu! Kami akan selalu mengingat pesan Ibu,” kata Ambun dan Rimbun serentak.

Keesokan harinya, Ambun dan Rimbun bersiap-siap untuk berangkat dan berpamitan kepada sang Ibu tercinta. Suasana haru pun menyelimuti hati sang Ibu dan kedua putranya itu. Air mata sang Ibu tidak dapat dibendung lagi. Demikian pula kedua orang kakak-beradik itu. Mereka tidak kuat menahan rasa haru.

“Berangkatlah, Nak! Nanti kalian kemalaman di jalan. Jika sudah berhasil, cepatlah kembali menemani Ibu di sini!” pesan sang Ibu.

“Baik, Bu! Kami akan segera kembali jika sudah berhasil,” jawab keduanya serentak.

Usai mencium tangan sang Ibu, keduanya pun pergi meninggalkan kampung halaman mereka. Sang Ibu berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian kedua putranya. Setelah keduanya menghilang di tikungan jalan kampung, barulah ia masuk ke dalam rumah.

Ambun dan Rimbun berjalan mendaki gunung, menuruni lembah, dan menyeberangi sungai. Mereka berjalan mengikuti arah matahari terbenam. Saat malam tiba, mereka berhenti untuk beristirahat. Ketupat dan telur pemberian sang Ibu mereka makan sedikit-sedikit. Ketika matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak terasa, sudah berhari-hari mereka berjalan.

Ketika memasuki hari ketujuh, Rimbun mendadak jatuh sakit, karena kelelahan berjalan jauh. Melihat kondisi adiknya itu, Ambun menjadi panik. Ia pun mencoba mengobati adiknya dengan memberinya minuman dari berbagai macam air akar-akaran. Namun, tidak satu pun yang mampu menyembuhkannya. Tidak terasa air matanya pun bercucuran membasahi pipinya. Ia sangat menyesal dan merasa bersalah karena telah mengizinkan adiknya ikut serta. Beberapa saat kemudian, Rimbun akhirnya meninggal dunia.

“Rimbun... Adikku! Jangan tinggalkan Abang...!” teriak Ambun memecah kesunyian di tengah hutan.

Namun apa hendak diperbuat, adik tercintanya benar-benar telah menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan diselimuti perasaan sedih, Ambun segera menggali lubang untuk kuburan adiknya. Setelah menguburkan jazad adiknya, Ambun mencabut dohong adiknya. Mata dohong itu ditancapkan di bagian kepala, sedangkan warangkanya ditancapkan di bagian kaki kuburan itu. Sementara kain berwarna kuning pembungkus dohong itu diikatkan pada nisannya.

Setelah itu, Ambun melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hutan lebat. Saat hari menjelang siang, perutnya terasa lapar. Ia pun membuka bungkusan makanannya di bawah sebuah pohon besar dan tinggi. Setelah bungkusan itu terbuka, barulah ia menyadari ternyata bekalnya sudah habis. Hatinya pun mulai cemas. Ia lalu memanjat pohon besar dan tinggi tempatnya berteduh itu. Sesampainya di atas, ia melihat kepulan asap tidak jauh dari tempatnya berada.

“Wah, pasti ada orang di sana,” pikirnya dengan perasaan gembira.

Tanpa berpikir panjang, ia segera turun dari atas pohon lalu berjalan menuju ke arah kepulan asap. Setelah beberapa lama berjalan, terlihatlah sebuah rumah di tengah hutan. Saat menghampiri rumah itu, ia melihat seorang nenek sedang mengumpulkan kayu bakar di samping rumahnya. Agar nenek itu tidak terkejut, ia pun mendehem.

“Hemm, sedang apa, Nek?” tanya Ambun.

“Mengumpulkan kayu bakar,” jawab nenek itu.

“Siapa engkau ini anak muda? Kenapa bisa sampai ke tempat ini?” nenek itu balik bertanya.

“Saya Ambun, Nek,” jawab Ambun, lalu ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga sampai di tempat itu.

“Nenek berduka cita atas meninggalnya adikmu,” kata nenek itu dengan perasaan haru.

Oleh karena merasa kasihan, perempuan tua itu mengizinkan Ambun untuk tinggal bersamanya. Setiap hari Ambun membantunya untuk mencari kayu bakar. Si Nenek pun sangat menyayangi Ambun seperti cucunya sendiri.

Pada suatu hari, sambil mengumpulkan kayu bakar, nenek itu bercerita kepada Ambun bahwa sebenarnya ia adalah bagian dari keluarga Kerajaan Sang Sambaratih. Ia diusir karena pernikahannya dengan almarhum suaminya yang berasal dari rakyat biasa. Meskipun dikucilkan dari istana, nenek malang itu masih mendapat perhatian dari sebagian keluarga istana. Hampir setiap minggu ada pengawal istana yang mengantarkan makanan untuknya.

Suatu hari, datanglah dua orang utusan dari istana Sang Sambaratih membawa makanan untuk si Nenek. Sebelum kembali ke istana, kedua utusan tersebut memberitahukan kepadanya bahwa raja akan mengadakan sayembara memetik bunga melati. Barangsiapa yang dapat melompat dari halaman rumah istana sampai ke atap istana untuk mengambil bunga melati, dan menyerahkannya kepada putri raja, maka dia akan dijadikan menantu raja. Akan tetapi jika gagal, maka dia akan mendapat hukuman gantung.

Si Ambun yang mendengar kabar itu, hampir semalaman tidak dapat memejamkam matanya. Ia ingin sekali mengikuti sayembara itu. Keesokan harinya, Ambun menemui si Nenek.

“Nek, bolehkah Ambun mengikuti sayembara itu?” tanya Ambun.

“Oh jangan, Cucuku! Kamu akan dihukum gantung jika gagal memetik bunga melati itu,” cegah si Nenek.

“Nenek tidak usah khawatir. Ambun pasti dapat mengatasinya,” kata si Ambun seraya memperlihatkan senjata dohongnya.

“Benda apa ini, Cucuku?” tanya si Nenek penasaran.

“Senjata pusaka peninggalan ayahku, Nek. Senjata ini dapat menolong jika diperlukan,” jelas Ambun.

Si Nenek pun yakin dan percaya dengan kata-kata Ambun, dan mengizinkannya untuk mengikuti sayembara tersebut. Keesokan harinya, Ambun sudah bersiap-siap berangkat menuju istana untuk mengikuti sayembara tersebut.

“Maaf, Nek! Ambun ada satu permintaan,” kata Ambun.

“Apakah itu, Cucuku?” tanya si Nenek penasaran.

“Bersediakah Nenek menyaksikan sayembara itu. Jika seandainya Ambun gagal, Nenek dapat menyaksikan Ambun menjalani hukuman gantung, dan saat itu adalah pertemuan terkahir kita,” bujuk Ambun.

Oleh karena sayang kepada Ambun, nenek itu pun memenuhi keinginan Ambun. Maka berangkatlah mereka berdua menuju istana. Selama dalam perjalanan, si Nenek senantiasa diselimuti perasaan cemas. Sementara si Ambun meminta kepada si Nenek untuk mendoakannya agar dapat meraih kemenangan.

Setibanya di halaman istana, penonton sudah penuh sesak dan para peserta sudah bersiap-siap mengikuti sayembara. Peserta sayembara tersebut terdiri dari delapan orang, yaitu tujuh pangeran dari kerajaan bawahan Kerajaan Sang Sambaratih, dan si Ambun sendiri. Satu per satu pangeran tersebut mengeluarkan kesaktiannya, namun tak seorang pun yang berhasil melompat ke atap istana dan memetik bunga melati. Kini giliran Ambun yang akan memperlihatkan kesaktiannya. Ketika Ambun memasuki arena, para penonton bertepuk tangan disertai dengan suara ejekan. Mereka meragukan kemampuan Ambun. Jangankan Ambun yang hanya orang kampung, para pangeran saja tidak satu pun yang berhasil melalui ujian itu. Namun dengan penuh percaya diri, Ambun tetap tenang dan berkonsentrasi penuh. Saat mengambil ancang-ancang, dengan suara nyaring Ambun berteriak memanggil ayahnya sambil mencabut dohong pusaka yang terselip dipinggangnya.

Dengan secepat kilat, Ambun melejit ke atas atap memetik bunga melati itu dan menyerahkannya kepada tuan putri yang duduk di samping raja. Seketika itu pula suara tepuk tangan dan teriakan penonton bergemuruh bagaikan membelah bumi. Suara teriakan penonton bukan lagi suara ejekan, melainkan suara kekaguman melihat kesaktian Ambun. Raja yang menyaksikan peristiwa itu langsung berdiri sambil bertepuk tangan dengan penuh kekaguman.

Sementara ketujuh pangeran tersebut merasa tidak puas. Mereka pun menyatakan perang kepada raja Sang Sambaratih. Namun atas bantuan Ambun dengan senjata dohongnya, ketujuh pangeran tersebut dapat dikalahkan. Akhirnya, Ambun dinikahkan dengan putri raja. Pesta pernikahannya dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Seminggu setelah pernikahan mereka, raja Sang Sambaratih menyerahkan kekuasaannya kepada Ambun, karena sudah tua. Sejak dinobatkan menjadi raja, Ambun berusaha mencari ibunya. Pada suatu hari, Ambun bersama beberapa orang pengawalnya menyusuri jalan yang pernah dilaluinya ketika ia berangkat merantau. Setelah tujuh hari tujuh malam berjalan, ia pun menemukan ibunya. Alangkah bahagianya sang Ibu saat melihat anaknya kembali dan berhasil menjadi raja. Namun, di satu sisi, sang Ibu tetap bersedih karena kehilangan Rimbun anak bungsunya.

Oleh karena tidak ingin melihat ibunya bersedih, Ambun bersama ibu dan para pengawalnya pergi mencari kuburan Rimbun. Setelah menemukan kuburan Rimbun, Ambun segera memerintahkan sebagian pengawalnya untuk menggali kuburan itu, dan memerintahkan sebagian yang lain untuk mencari Danum Kaharingan Belom (air kehidupan) di Bukit Kamiting.

Menjelang sore, pengawal yang diutus ke Bukit Kamiting telah kembali dengan membawa Danun Kaharingan Belom. Ambun segera meneteskan air kehidupan itu ke tulang-tulang adiknya yang sudah terpisah-pisah. Tidak lama kemudian, tulang-tulang itu menyusun diri. Daging dan kulitnya pun kembali seperti semula. Akhirnya Rimbun hidup lagi. Keluarga Ambun kini telah berkumpul kembali.

Setelah itu, Ambun mengajak keluarganya hidup bersama di istana Kerajaan Sang Sambaratih dengan penuh kebahagiaan.

* * *

Demikian cerita Ambun dan Rimbun dari Kalimantan Tengah. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu, keutamaan memelihara keutuhan keluarga dan keutamaan memiliki kemauan kuat untuk mengubah nasib.

Pertama, keutamaan memelihara keutuhan keluarga. Sifat ini tercermin dalam kehidupan keluarga Ambun. Mereka senantiasa saling menyayangi, menghormati dan saling menjaga. Hal ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Ambun. Setelah berhasil di perantauan, Ambun segera mencari ibunya yang tinggal di kampung dan menghidupkan kembali adiknya yang sudah meninggal dunia. Dikatakan dalam untaian syair Melayu:
wahai ananda dengarkan petuah,
berkasih sayang jadikan amanah
ke mana pergi engkau pelihara
supaya hidupmu beroleh berkah

Kedua, keutamaan memiliki kemauan kuat untuk mengubah nasib. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Ambun dan Rimbun untuk selalu bekerja keras dan tabah menghadapi berbagai macam kesulitan. Hal ini dapat dilihat ketika adiknya meninggal dunia di tengah perjalanan, Ambun tetap bersemangat dan meneruskan perjalanannya pergi merantau. Akhirnya, dengan tekad kuat, kerja keras dan ketabahannya, Ambun berhasil mengubah nasib keluarganya.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa dalam kehidupan keluarga sebaiknya saling mendoakan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga lainnya. Hal ini ditunjukkan sikap Ibu Ambun dan si Nenek yang senantiasa mendoakan si Ambun agar terhindar dari malapetaka dan berhasil mencapai keinginannya. (Samsuni/sas/89/07-08)

Sumber:
Isi cerita diadaptasi dari Fansuri, H. Aspul, dkk. Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah. Jakarta: Grasindo.
Anonim. “Kalimantan Tengah,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah, diakses tanggal 25 Juli 2008).
Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit Adicita.

Program 30 Hari Melatih Pikiran Bawah Sadar berdasarkan The Power of Your Subconscious Mind

Setiap hari ada materi singkat + afirmasi/visualisasi/latihan praktis. --- 📘 Program 30 Hari – The Power of Your Subconscious Mind 🗓 Mingg...